Thursday, December 24, 2015

Mimpi



Mimpi
23/12/2015

            Apa memang semua semudah itu
            Mimpi-mimpi yang dianyam perhari
            Menggunung hingga menjadi baju
            Lapisan pertama dan kedua
Untuk dikenakan setiap hari atau sesekali
Penghangat dan pendingin diri
Yang setiap harinya di terpa angin dan cahaya matahari
            Mimpi-mimpi itu, apa akan berbuah duri
            Bukan manis atau asam yang diacap
Tapi hampa
Duri-duri tidak terlihat
Perlahan menusuk jati diri
Melalui telinga, hidung, mata dan hati
            Mimpi-mimpi dihujam duri
            Duri-duri yang sebenarnya tidak pernah ada
            Duri-duri yang sebenarnya tidak akan pernah ada
            Menghilangkan arti dalam mimpi
Bajumu bolong kanan kiri
Tidak layak dipakai lagi

Friday, December 18, 2015

Selayang pandang



Selayang Pandang
16/12/2015

Lampu kelap-kelip gegirangan
Sambut-sambutan berbalasan
Kanan-kiri, atas-bawah
Sana-sini bersahutan

Buah tanganmu mekar indah
Tidak membasi tidak mengunci
Berdiam diatas pohon jiwamu
Menunggu dipetik dinikmati

Sini kupinjamkan tangga
Baru dibeli tetangga sebelah
Agar kau petik yang banyak
Untuk dinikmati bersama

Jangan malu, berikan saja semua
Sisihkan berapalah untuk keluarga
Niatmu baik, jangan sungkan
Biar rasa yang bicara

Karya, anggaplah buah
Manis,pahit,asam,asin
Semua selera penikmat
Tiada pasti,semua menikmati

Jikalau saja engkau malu
Pejamkan matamu dulu
Biar karya dan rasa
Melayangkan pandangnya untukmu

Jikalau engkau takut
Pedasnya bibir penikmat
Biar karya dan rasa yang mendengar untukmu

Dipertemukan



Dipertemukan
10/12/2015

Semua menunggu untuk dipertemukan
Semua ada untuk dipertemukan
Kita diciptakan untuk dipertemukan
Kita dilahirkan untuk dipertemukan

Pertemukan aku denganmu
Pertemukan dirimu denganku
Dalam makna sesungguhnya
Bukan romansa semata

Kita akan berlaga
Kita akan beradu
Kita akan berpadu
Kita akan jadi pertanyaan baru

Pertemukan semua dengan semua
Pertemukan tiada dengan tiada
Kita jadi saksi
Pertemuan yang belum pernah terjadi

Di Jakarta seorang ibu menunggu bayi
Di Manokwari seorang kakek menunggu mati
Di Surga Malaikat bersama Tuhan
DI Neraka Iblis mengutuk Tuhan

Mereka menunggu
Satu persatu menunggu

            Dipertemukan

Pena Baru



Pena Baru
7/12/2015
Kugoreskan pena baru
Bertegur sapa dengan kertas
Mencoba cari nyaman
Yang sebelumnya pernah dirasa

Dulu dengan pena ini
Kurasa tulisanku akan enak
Seenak cakwe gurih yang baru matang

Ternyata sama saja

Tulisanku hanya menebal
Sulit dibaca

Gesekkannya berat
Goresannya kesat

Seperti menggigit biji anggur
Pahit
Berat
Bercak-bercak air got di kertas

Yang mana yang enak
Yang mana yang nyaman
Yang mana yang ringan

Yang pasti ada

Pena itu entah dimana

ketika menunggu menjadi rutinitas



Ketika menunggu menjadi rutinitas
7/12/2015

Kau disana berdiri
Di bawah lampu menghadap hamparan rumput berlaga
Di tengah sunyi beradu belati

Kau disini menanti
Di atas meja kayu bersila
Mengadu singa dengan lebah
Dalam sarang imaji harap waktu mati

Aku menyaksikanmu

Rebahan di bawah payung dedaun
Hangat, adem, nikmat
Menikmati, menunggu waktu

Tuesday, December 8, 2015

Sst!



Sst…!!!
2/12/2015

Sssttttt……
Ada yang mati
Sorak sorai bergembira!
Matinya ditabrak buldoser zaman!

Satu lagi hidung hilang
Sepasang paru-paru berpulang
Jatah nafas kita makin nambah
Gebyar-gebyar!

Berpestalah! Berbahagialah!!
Ruang kita melebar, semoga terus melebar!
Kau! Tertawalah!

Kau dan aku dengar pesta meriah
Sahut-sahutan
di kota-kota besar
mereka bahagia mereka senang
kelap-kelip lampu kanan kiri bergantian
kau dan aku menunggu maut di bawah jembatan
kau dan aku menjamu maut di pinggir jalan
esok hari
kau dan aku bersahabat ketiadaan

mereka bahagia, mereka senang
kelap-kelip lampu kanan kiri bergantian
jalanan diisi kendaraan kreditan
mereka gegap gempita

uuuuuuuuuuuuu mata dan telinga disumbat taiiiiiiii

ssssssstttt……..
ada yang mati….