Monday, January 25, 2016

Percakapan

Percakapan
17/1/2016


Ayo kita berkelana
keliling kelilang kelilung
memburu kelinglungan
mencari harta kelana

Ayo mencari kebodohan
agar bisa diajak bicara
siapa tahu bodoh itu lucu
kita ajak dia berwacana
dia ajak kita tertawa

ayo kita berburu asap metro dan kopaja
asal-asalan jepret pipi ibukota
kita bawa kelana kesana
kasih unjuk mereka yang di desa
agar jadi pembawa wahana
pembaruan di luar kota

ayo kita gali harta bapak bangsa
yang rata dikunci dalam bumi
siapa tahu bukan harta tapi kata
amanah untuk putik perawan pemuda pemudi

ayo kita baurkan mimpi
entah di siang bolong atau malam kosong
siang kan tidak seindah malam
malam pula tak seterang siang
tetap ramai dikunjung khalayak

aku selalu suka dengan ayo
seakan jabat tangan lewat kata
tanpa batas fisik dan metafisik
seperti suguhan hangat di hari dingin

ayo kita ini
ayo kita itu

ayo senang-senang

Sunday, January 24, 2016

Reaktor Nuklir



Reaktor nuklir
24/1/2016
Untuk E

Katakan saja bahwa kata-kata itu bernyawa
Benar salahnya tak perlu jadi urusan
Selayaknya alam nanti setelah mati
Ada tidaknya hanya jadi perdebatan

Anggap saja makna-makna itu mengembara
Ber-rotasi ber-evolusi ber-revolusi
Melayang bebas di atas kepala-kepala yang hidup dan bertanya-tanya
Yang kata Gie tiada setan yang tahu

Hadapi saja halaman-halaman di bukumu itu mengulurkan jemari
Mengundangmu bercanda mengajakmu berbicara menghasilkan tawa
Memadukakan senyummu mengarak bahagiamu
Ada-ada saja kelakuan imajimu

Abcdefghijklmnopqrstuvxyz
Qwertyuiopasdfghjklzxcvbnm
Yang mana yang benar dan teratur?

Coret semua yang mengundang ragu
Ukir semua yang kau anggap candu
Langkahkan semua yang kau rasa seru
Ini, secangkir bahagia dalam gelas baru
Mengajak berdansa di duniamu yang anti haru

Friday, January 15, 2016

Kedai



Kedai
15/1/2016
Jika lahir sebuah pertanyaan tentang hidup
Muncul analogi-analogi yang indah nan menjijikkan
Aku sendiri memiliki beberapa yang berubah mengikuti perkembangan usia
Kini analogiku untuk hidup bagai sedang duduk di dalam kedai
Aku, kau, atau kita duduk seorang diri atau bersama kerabat
Anggap saja sendiri
Pertama mata mencari santapan atau minuman untuk dinikmati
Seperti mencari kesukaan dan kedukaan yang akan dijalani
Lalu memilih kursi
Ada yang di tengah, depan, atau pojokan
Pilihan konsumsi terpilih beserta kursi
Kita hampiri, duduki, menanti
Mengintip ponsel, melihat-lihat pemandangan sekiranya ada yang menarik perhatian
Ponsel sepi, ramai informasi semua disinformasi
Disintegrasi komposisi informasi
Diam diam diam diam
Tutupi bosan atau muak dengan lihat-lihat sekeliling sambil obral seringai ramah
Ada gadis jelita bawa pesanan
Duduk kembali lihat pesanan datang
Dinikmati, diresapi, bakar rokok biar makin hakiki
Lalu-lalang pengunjung datang
Lalu-lalang pendatang pulang
Masih seorang diri, tak apa
Pesanan cukup puaskan batin
Cuap-cuap ramah dengan penjaga cukup puaskan penasaran
Selayaknya hidup di bumi Tuhan
Pilihan dan kenikmatan tiada yang pasti kawan
Pilihlah angka yang paling banyak nominalnya
Sebanyak itulah kepastian pilihan dan kenikmatan
Aku, kau , dan kalian
Punya pilihan
Punya kenikmatan
Kedatangan dan kepulangan jua kawan
Mereka akan berjumpa dan undur diri
Seperti aku, kau dan kalian
Yang akan pulang saat pesanan habis dan waktu menegur

Wednesday, January 13, 2016

Naf



Naf
12/1/2016

Orang kanan kiri kebingungan
Keblinger kesasar di Rahim ibukota
Ada yang cari nafkah ada yang buru nafsu
Sama-sama “naf” berbeda akhiran
Nyatanya sama-sama jadi pemburu
Bersenjata lidah bertameng malu
Asal-asal obrak-abrik pori-pori
Yang penting “aku” yang jadi jawara
Bukan dia, bukan engkau
HA HA HA HA!!

Orang atas bawah awur-awuran
Berantakan seperti kapal pecah istilah orang tuaku
Yang atas tidur di akar pohon dilindungi batang beton
Yang bawah sibuk bongkar pasang dahan
Di cangkok, di stek, tanam benalu
Mereka amnesia terlalu lama di siram matahari
Warga atas biar aman tujuh turunan
Warga bawah yang penting hidup tujuh turunan
HU HU HU HU….

Masa lalu di kebiri investor
Masa kini di kebiri zaman
Masa depan di kebiri anak cucu
Ilmu dimasak malah gosong
Harapan dibakar malah jadi abu
Yasudah, mending tanam aib yang banyak biar tenar