Kedai
15/1/2016
Jika lahir sebuah pertanyaan tentang hidup
Muncul analogi-analogi yang indah nan menjijikkan
Aku sendiri memiliki beberapa yang berubah mengikuti
perkembangan usia
Kini analogiku untuk hidup bagai sedang duduk di dalam kedai
Aku, kau, atau kita duduk seorang diri atau bersama kerabat
Anggap saja sendiri
Pertama mata mencari santapan atau minuman untuk dinikmati
Seperti mencari kesukaan dan kedukaan yang akan dijalani
Lalu memilih kursi
Ada yang di tengah, depan, atau pojokan
Pilihan konsumsi terpilih beserta kursi
Kita hampiri, duduki, menanti
Mengintip ponsel, melihat-lihat pemandangan sekiranya ada
yang menarik perhatian
Ponsel sepi, ramai informasi semua disinformasi
Disintegrasi komposisi informasi
Diam diam diam diam
Tutupi bosan atau muak dengan lihat-lihat sekeliling sambil
obral seringai ramah
Ada gadis jelita bawa pesanan
Duduk kembali lihat pesanan datang
Dinikmati, diresapi, bakar rokok biar makin hakiki
Lalu-lalang pengunjung datang
Lalu-lalang pendatang pulang
Masih seorang diri, tak apa
Pesanan cukup puaskan batin
Cuap-cuap ramah dengan penjaga cukup puaskan penasaran
Selayaknya hidup di bumi Tuhan
Pilihan dan kenikmatan tiada yang pasti kawan
Pilihlah angka yang paling banyak nominalnya
Sebanyak itulah kepastian pilihan dan kenikmatan
Aku, kau , dan kalian
Punya pilihan
Punya kenikmatan
Kedatangan dan kepulangan jua kawan
Mereka akan berjumpa dan undur diri
Seperti aku, kau dan kalian
Yang akan pulang saat pesanan habis dan waktu menegur
No comments:
Post a Comment