Kopi, kedai dan karya.
Karya dan kopi
Bagai laut dan langit
Dua biru dunia
berdampingan
Manjakan mata
sajak penulis, tersaji di kedai ngopiyuk Radio Dalam
Akhir-akhir
ini anak muda sedang terkena virus kopi. Kedai-kedai kopi menjamur dimana-mana,
foto-foto kopi menghiasi timeline Instagram.
Kopi dan kedainya jadi primadona dunia maya. Kopi jadi konsumsi publik yang
dijadikan simbol sosial, dan kedainya menjadi ruang pertemuan formal atau
non-formal.
Masyarakat bisa dengan mudah
mengakrabkan diri dengan sesuatu yang baru. Seperti belum lama ini, sepeda
fixie digandrungi warga ibukota negara. Komunitas dan toko ikut meramaikan
fixie sebagai sebuah trend. Lalu kini kopi, dengan pola yang sama. Istilah ”ngopi
dulu lah biar santai” kini memiliki makna baru. Jika dulu istilah tersebut
bermakna ”minum kopi sachet di warung kopi” kini menjadi “minum di kedai kopi”
Semenjak hadirnya
film filosofi kopi di tengah-tengah masyarakat, entah berapa oknum kreatif ikut
serta menaikan kopi menjadi sebuah simbol kreatifitas. Hingga sekarang
masyarakat yang hidup di industri kreatif berlomba-lomba untuk nongkrong di kedai kopi ditemani segelas
kopi dan laptop. Menunjukan seakan-akan sedang menuangkan imajinasi dalam
ketikan tangan. Dengan kopi sebagai saksi dan penyemangat jari.
Karya dan
penikmatnya adalah sesuatu yang terpetakan secara tidak sengaja. Pelukis dengan
lukisannya, penulis dengan tulisannya, pemusik dengan musiknya. Mereka semua
terbagi dengan rapi dan indah, sehingga karya-karya mereka sejahtera dengan
sendirinya dalam obrolan dan karya.
Namun ada selang waktu dimana
pertemuan antar karya-wan tersebut tidak terjadi. Dimana gagasan dan pandangan
bersinggungan, perlahan mencoba mencari titik pertemuan. Sebuah momen yang
menghilangkan segala jenis jabatan dan latar belakang. Sebuah pembicaraan
hangat dan sengit disaat yang sama, terekam dengan segelas kopi.
Kini para karya-wan mulai
memunculkan kopi ke dalam karyanya sebagai simbol pemanis, ketenangan, atau
kehangatan ketika bersama orang yang disayang. Hal-hal tersebut hanyalah
beberapa dari contoh makna dari kopi dalam sebuah karya, yang tentu saja akan
banyak makna lainnya yang sesuai dengan konten dan konteks karya tersebut. semua
bagaimana sang karya-wan menaksir materi karyanya.
Hubungan seorang karya-wan dan kopi
lebih dari sekedar minuman. Kopi terkadang menjadi sumber kisah yang di
kisahkan oleh karya-wan, atau sebaliknya, kopi menjadi penenang dan teman
ketika karya-wan sedang berjibaku menumpahkan karyanya. Sebagai pengingat,
bahwa sebuah karya tidak perlu terburu-buru, bahwa karyanya adalah kopi untuk
mata dan imajinasi mereka yang akan menikmati.
Karya dan Kopi adalah dua hal yang
berbeda. Kopi memiliki bentuk pasti sebagai sebuah biji, atau cairan untuk
diminum. Karya tidak memiliki bentuk. Sebuah abstrak yang memiliki persepsi,
bentuk dan ideologi sang karya-wan. Selayaknya laut di bumi, dan langit di
semesta. Sesama biru yang berhadapan dan memiliki kisah dan maknanya sendiri. Biru
mana yang anda nikmati hari ini?
👍
ReplyDeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDelete