Sunday, March 20, 2016

Kopi, Kedai dan Karya



Kopi, kedai dan karya.

Karya dan kopi
Bagai laut dan langit
Dua biru dunia berdampingan
Manjakan mata

sajak penulis, tersaji di kedai ngopiyuk Radio Dalam

            Akhir-akhir ini anak muda sedang terkena virus kopi. Kedai-kedai kopi menjamur dimana-mana, foto-foto kopi menghiasi timeline­ Instagram. Kopi dan kedainya jadi primadona dunia maya. Kopi jadi konsumsi publik yang dijadikan simbol sosial, dan kedainya menjadi ruang pertemuan formal atau non-formal.
Masyarakat bisa dengan mudah mengakrabkan diri dengan sesuatu yang baru. Seperti belum lama ini, sepeda fixie digandrungi warga ibukota negara. Komunitas dan toko ikut meramaikan fixie sebagai sebuah trend. Lalu kini kopi, dengan pola yang sama. Istilah ”ngopi dulu lah biar santai” kini memiliki makna baru. Jika dulu istilah tersebut bermakna ”minum kopi sachet di warung kopi” kini menjadi “minum di kedai kopi”
            Semenjak hadirnya film filosofi kopi di tengah-tengah masyarakat, entah berapa oknum kreatif ikut serta menaikan kopi menjadi sebuah simbol kreatifitas. Hingga sekarang masyarakat yang hidup di industri kreatif berlomba-lomba untuk nongkrong di kedai kopi ditemani segelas kopi dan laptop. Menunjukan seakan-akan sedang menuangkan imajinasi dalam ketikan tangan. Dengan kopi sebagai saksi dan penyemangat jari.
            Karya dan penikmatnya adalah sesuatu yang terpetakan secara tidak sengaja. Pelukis dengan lukisannya, penulis dengan tulisannya, pemusik dengan musiknya. Mereka semua terbagi dengan rapi dan indah, sehingga karya-karya mereka sejahtera dengan sendirinya dalam obrolan dan karya.

Namun ada selang waktu dimana pertemuan antar karya-wan tersebut tidak terjadi. Dimana gagasan dan pandangan bersinggungan, perlahan mencoba mencari titik pertemuan. Sebuah momen yang menghilangkan segala jenis jabatan dan latar belakang. Sebuah pembicaraan hangat dan sengit disaat yang sama, terekam dengan segelas kopi.
Kini para karya-wan mulai memunculkan kopi ke dalam karyanya sebagai simbol pemanis, ketenangan, atau kehangatan ketika bersama orang yang disayang. Hal-hal tersebut hanyalah beberapa dari contoh makna dari kopi dalam sebuah karya, yang tentu saja akan banyak makna lainnya yang sesuai dengan konten dan konteks karya tersebut. semua bagaimana sang karya-wan menaksir materi karyanya.
Hubungan seorang karya-wan dan kopi lebih dari sekedar minuman. Kopi terkadang menjadi sumber kisah yang di kisahkan oleh karya-wan, atau sebaliknya, kopi menjadi penenang dan teman ketika karya-wan sedang berjibaku menumpahkan karyanya. Sebagai pengingat, bahwa sebuah karya tidak perlu terburu-buru, bahwa karyanya adalah kopi untuk mata dan imajinasi mereka yang akan menikmati.
Karya dan Kopi adalah dua hal yang berbeda. Kopi memiliki bentuk pasti sebagai sebuah biji, atau cairan untuk diminum. Karya tidak memiliki bentuk. Sebuah abstrak yang memiliki persepsi, bentuk dan ideologi sang karya-wan. Selayaknya laut di bumi, dan langit di semesta. Sesama biru yang berhadapan dan memiliki kisah dan maknanya sendiri. Biru mana yang anda nikmati hari ini?

2 comments: