PEMANDANGAN YANG
(TIDAK) BISA DINIKMATI
OLEH : HAFENDRA ADAM
Melihat
orang mati seharusnya tidak begitu mengejutkan. Sama saja sebenarnya, bedanya
hanya lebih banyak darah dan kulitnya lebih lebam dan busuk dari biasanya.
Biasa dalam artian orang hidup. Setidaknya setelah melihat orang mati kau bisa
bilang pada teman-temanmu “aku baru saja melihat mayat!!” lalu teman-temanmu
akan bertanya-tanya hal-hal yang mudah ditebak seperti naskah dialog tak
terlihat yang muncul di kepalamu.
Tapi
melihat mayat yang bertebaran seperti pasir di pantai tidak seperti yang
dibayangkan. Memang, kalimat-kalimat seperti “aku melihat mayat!” atau
“mayatnya banyak sekali!!” atau mungkin “apa mereka akan jadi zombie?” kalimat
terakhir sebenarnya lahir begitu saja jika kau memiliki hobi menonton atau
bermain game zombie. Mengingat Jasin
tidak pernah memainkan permainan itu, jadi ia tidak begitu memikirkannya.
Mayat-mayat
berserakan, lalat-lalat bergerombol, belatung-belatung pesta pora, dan darah
bagai jadi genangan air becek setelah hujan turun. Tanah berubah warna dari
coklat jadi warna kusam, menghitam bagai tersiram tinta pulpen berbau busuk.
Pemandangan itu tersebar cukup luas untuk memenuhi seluruh daya pandang Jasin,
tanah kotor, bau, darah dan mayat ditutupi oleh langit mendung tanpa hujan.
Hanya itu. Jasin tahu bahwa ini hanya mimpi. Tapi ia menikmatinya. Pemandangan
ini baginya seperti pantai atau puncak gunung bagi beberapa orang. Memberikan
ketenangan dan pencerahan yang dimengerti hanya olehnya. Bukan menyenangkan,
tapi cukup menenangkan. Bagi Jasin setidaknya.
Jasin
seorang diri di mimpi itu. Berjalan seorang diri melewati mayat-mayat. sambil
sengaja menginjak beberapa diantaranya. Ia melihat ke tanah, beberapa tulang
patah ia injak. Tulang tangan dan kaki. Sebuah tengkorak ia tendang seperti
menendang bola plastik. Cukup keras sampai tengkorak tersebut hilang dari
pandangannya. Tulang-tulang kotor yang kehilangan putihnya. Menenangkan bukan?
Di depan
tumpukan mayat-mayat berseragam, tentara mungkin, karena di pinggang mereka
terdapat sarung pedang, Jasin berlutut. Menusukkan jarinya ke rongga mata salah
satu mayat yang belum lama mati sepertinya. Ia main-mainkan bola mata mayat
tersebut. Jasin menganggapnya seperti bola pingpong, hanya saja lebih berlendir
dari biasanya dan lebih kenyal. “kalau kau masih hidup mungkin kau sedang di
belakang meja sambil masturbasi. Beruntunglah kau sudah mati.” Jasin tentu saja
masih sadar bahwa ia sedang bermimpi, jadi sebenarnya ia tidak tahu apakah ini
benar-benar orang mati atau bukan. hanya saja ia senang membayangkan
mayat-mayat ini memiliki masa depan dan masa lalu tragis, atau sekedar untuk
mainan imajinasinya saja. Bola matanya ia lempar-lempar ke udara, membiarkannya
merasakan udara busuk lalu jatuh kembali ke tangannya. Yang setelah itu ia
injak dan kembali berjalan menikmati pemandangan.
Burung-burung
gagak dan lalat-lalat beberapa ada yang sedang nangkring di atas sebuah
potongan tulang yang sepertinya tulang paha. Memangsa belatung-belatung yang
sedang berjalan-jalan santai. Beberapa ada yang terbang mengelilingi lapangan
tersebut, mencari apa, hanya burung itu yang tahu. sementara para lalat hanya
berputar-putar di atas bau busuk dan daging-daging berdarah hitam. Jasin sangat
suka pada lalat. Saking sukanya ia sering menganalogikan dirinya sebagai seekor
lalat yang mencari tempat-tempat bau dan
kotor. Karena menurut Jasin, lalat tidak pernah memilih-milih tempat kotor yang
spesifik, yang penting bau sudah cukup.
Jasin
melihat lalat sama seperti ia melihat emas, atau uang, atau saham. Tidak peduli
siapa yang memegang yang penting ia punya kuasa. Hanya saja emas benda mati,
dan lalat makhluk hidup. Tapi sama saja bagi Jasin. Sesama ia memandang
orang-orang yang ia temui ketika ia bangun. Mati atau hidup sama saja baginya.
Tidak berarti apa-apa.
Sedari
kecil Jasin bukan anak yang sering dibully,
dihina atau diolok-olok. Malah sebaliknya, Jasin adalah anak emas, cerdas,
ramah dan mudah berbaur dengan siapa saja. sering kali dijuluki sebagai Emas
Murni karena ia sama sekali tidak memiliki kekurangan di mata teman-teman dan
lingkungan sekitarnya. Ditambah dengan parasnya yang rupawan, wawasannya yang
luas dan keahliannya berolahraga, semakin mempertegas statusnya sebagai seorang
idola dan panutan. Citra tersebut terus dibawanya hingga ia menduduki kursi
pegawai, sampai tiba di jabatan tertinggi dalam sebuah badan pemerintahaan.
Namun di
masa yang sama, sedari kecil Jasin memiliki keahlian menutupi apa yang menjadi
pendapatnya. Gagasan yang terbentuk semasa kecil hingga terbangun di masa
dewasanya. Dan Jasin kecil tahu juga bahwa jika gagasannya ia tampilkan di muka
umum, atau di depan orang-orang yang menganggapnya sebagai seorang idola, semua
keagungan yang terpancar dan ia bangun perlahan sedari kecil akan hilang sekejap
mata.
Gagasan
sepele seperti yang tertulis dalam buku hariannya sewaktu mencapai gelar
sarjana “ senyum palsu adalah komoditas dan kebohongan adalah mata uangnya,
seperti dolar dan saham, investasi terbaik dan termudah adalah citra yang
dibangun dari senyum palsu, untuk dunia yang di isi mayat hidup.”
Kakinya harus terus melangkah,
melewati mayat dan bangkai. Kali ini ia berhenti di depan dokter-dokter, dan
tabib dan para penyembuh, karena sebagian besar dari mereka mengenakan jubah
putih dan pakaian bedah berwarna hijau. ia mengeluskan jarinya yang kurus dan
kasar ke pipi mereka yang masih meneteskan darah, satu persatu, meskipun tidak
lagi berwarna merah, darah hitam busuk tetap dihitung darah bukan?. Lalu
diambilnya satu kepala yang sudah terputus dari lehernya “kalian para pahlawan,
para penyabar, begitu mulia, begitu agung, begitu rentan. Apa mimpi-mimpi
kalian seindah slip gaji dan pengakuan yang kalian dapat? Semua nyawa dan
potongan tubuh yang gagal kalian selamatkan, semua anak dan orang tua yang
kalian nyatakan mati, apa mereka menghuni mimpi-mimpi kalian tiap pagi, siang,
sore dan malam? Ceritakan padaku, kuyakin tidak akan ada yang tahu. oh, aku
lupa, kalian sudah mati. Dan ini hanya mimpi, maaf mengganggu, lanjutkan
pembusukan kalian.” Jasin mengecup kening mereka satu persatu, bibirnya kotor
menghitam dan basah terkena kulit mereka yang sudah berlapis nanah dan darah. Jasin
kembali berjalan.
Ia berhenti
di sebuah gundukan tanah yang membukit. Duduk dan melihat ke atas, ke langit.
Ia bosan melihat langit yang kusam dan mendung. Ia bosan dengan angin yang
menghembuskan udara berbau busuk. ia melepas pandangannya dari langit,
mengalihkannya ke depan, lalu ke kiri, dan kanan. Ia bosan melihat mayat,
lalat, dan burung gagak. Tentu ia tidak penah melepaskan dirinya dengan
kenyataan bahwa semua yang ia nikmati saat ini hanya mimpi. Atau bagian dari
seluruh alam mimpinya. Ia berpikiran untuk mengubah pemandangan ini dengan
sesuatu yang….lebih bisa dinikmati. Jasin menutup matanya, dan membukanya perlahan.
Matahari
tidak lagi ditutupi awan. ia muncul dalam bentuknya yang bulat dan warnanya
yang membutakan. Terang dan panas. Namun warna langit tidak lagi berwarna
kusam, tapi semakin gelap, dengan sekilas warna merah, merah pekat seperti
darah busuk. langit berwarna merah darah gelap. Dengan matahari di berikan
ruang yang pas sekali dengan bentuknya. Angin meniupkan wangi-wangi arang.
Tumpukan mayat berganti jadi sebuah kebun api. Api-api yang terbakar dengan
rapi setinggi dengkul, menari-nari berdampingan, menyisakan sejengkal ruang
diantaranya. Di dalam api itu ada yang terbakar, mengelupas dan menghitam.
Burung-burung gagak dan lalat hilang, hanya abu dan percik api yang lalu lalang
melintas diterpa angin. Jasin menikmati pemandangan baru ini.
Jasin
melangkah menuruni gundukan tanah itu, tanah dibawahnya tidak lagi becek,
mengering kerontang. menuju kebun. Ia memilih satu kobaran yang terdekat
dengannya, memperhatikan tiap lekuk dan percikannya, melihat ke dalam api itu
ia tahu apa yang menggosong di dalamnya. “mungkin kau bekas seorang wanita
cantik dengan tubuh semolek mangga yang baru matang. Manis dan harum memikat.
Potonganmu sungguh pas. Dan kau menggosong dengan begitu indah, aku
membayangkan kau dikuliti saat kau tidur. Akan ku sampaikan salammu pada
pengulitmu jika aku bertemu dengannya.”
Berkhayal
adalah sebuah kegiatan yang menyehatkan untuk semua orang, tidak terkecuali
Jasin. Baginya membayangkan hal-hal yang tidak mungk in terjadi adalah sesuatu
yang menenangkan. Sebuah surga pribadi untuknya menenangkan diri, untuknya
sedikit mewaraskan diri. semua yang dilihat dan dirasakan Jasin saat ini,
baginya bukan sebuah khayalan, karena istilah “berkhayal” terlalu klise,
terlalu lembek. Ia lebih suka dengan kata “menyiksa”. Saat ini di matanya, ia
sedang “menyiksa” khayalannya. Sewaktu sadar ia pernah menuliskan ini dalam
buku hariannya “ berkhayal sama saja seperti menjadi anak kecil yang
menggenggam permen. Hanya saja permennya tidak habis-habis dijilatnya. Di dunia
yang penuh keindahan sesaat seperti ini, lebih layak bagiku untuk menyiksa
keindahan itu dengan khayalanku. Seperti kata orang suci, segala nikmat yang
berlebihan sama saja dengan siksaan. Lidah anak kecil dengan permen yang tidak
habis-habis itu pasti lambat laun akan mati rasa, dan giginya akan runtuh
dengan sendirinya di dalam mulutnya. Lidah yang mati rasa akan terasa hilang
dari mulut, dan gigi yang runtuh akan mencabik daging-daging dalam mulut.
Nikmat yang jadi siksaan. Maka mana surga, dan mana yang neraka?”.
Mata Jasin
sudah melihat tujuan lain, api di ujung jalan. Hidung dan telinganya sudah
mengakrabkan diri dengan bau api dan suara kobarannya. Matahari sedikit malu,
menutup sinarnya dengan awan kelabu yang membuat sinarnya hanya terpancar
setengah, tepat ke punggung Jasin. Selagi berjalan ia memandangi sekelilingnya.
Tidak ada yang berubah, hanya matahari yang kini dibelakang punggungnya.
Tiba-tiba ia terpikir untuk mengundang seseorang, yang hidup tentunya untuk
diajaknya berbicara. Tapi ia bingung, ia tidak tahu siapa-siapa yang bisa
berkunjung ke mimpinya. Ia kesepian. Bahkan dalam Alam yang Tidak Ada ini, yang
bagian dari siksanya terhadap khayalannya sendiri, ia tetap kesepian.
Seekor
burung muncul dari entah mana, dan hinggap di pundaknya. Gagak abu-abu, kalau
biasanya gagak berbulu hitam, yang ini berbulu abu-abu seperti…abu. Mata dan
paruhnya hitam, sama saja seperti gagak biasanya. Tapi ekornya tidak abu-abu,
namun merah, merah kejingga-jinggaan, seperti percikan api. Perubahan warna
dari abu-abu ke merah di tubuhnya halus sekali, seperti perubahan warna api di
kompor, dari biru ke merah. Jasin tidak begitu terkejut begitu melihat burung
itu di pundaknya, malah langsung dielusnya si burung. ia tidak melawan saat
dielus Jasin, seakan ia tahu bahwa ia akan disentuh. Tapi setelah dielus,
bulu-bulunya meninggalkan abu
di tangannya. Melihat itu Jasin langsung tahu dari mana asal
burung itu. Jasin memicingkan senyum ke arah si burung “tahu saja kau aku butuh
teman, kunamai kau Unggar bagaimana?”. Burung itu hanya menelengkan kepala ke
kanan dan ke kiri, tetap di pundak Jasin. “salam kenal Unggar, aku Jasin.”
Teman
mungkin adalah salah satu kebutuhan yang tidak tertulis. Baik di dunia nyata,
maupun mimpi. Entah bisa berbicara dengan kata kata atau dengan kukuran, atau
ketukan, atau tenglengan kepala, setidaknya gestur sekecil apapun, bisa
dianggap bentuk komunikasi. “apa yang ingin kau lihat? Apa kau ingin melihat
padang rumput?” tanya Jasin polos pada Unggar. Kuuur,kukukuuur? Kukur! Balas Unggar lantang. Jasin menangkap itu
sebagai bentuk persetujuan. Ia tersenyum kali ini, kecil, memandang gagak di
pundaknya yang ia namakan Unggar. “baiklah, setelah aku menemui satu orang
lagi, kita ke padang rumput. Ayo kejar aku Unggar!” Jasin berlari kecil,
diikuti Unggar si gagak yang terbang rendah sebahu Jasin di belakangnya, menuju
sebuah persimpangan, diantara api-api yang membentuk perempatan. Di bawah
langit yang merah, awan kelabu dan matahari yang cahayanya menipis, Jasin dan
teman barunya mengadu tenaga.
Tepat di
depan api kecil yang nampaknya baru saja dinyalakan, Jasin mengerem larinya.
Beberapa detik setelahnya Unggar langsung hinggap di pundaknya. Jasin berlutut,
celana birunya semakin kotor, berhias remah-remah tanah kering. Matanya
memperhatikan api kecil itu seakan balita, meliuk-liuk liar, bebas, namun
terkungkung bara di bawahnya. Di mata hitamnya terpantul tarian api itu seperti
cermin hitam yang tidak begitu gelap. Di dalam bara kecil itu melayang-layang
benda putih, seukuran dengan kerikil. Namun yang ini berbeda dengan lainnya,
jika yang lain menggosong, yang ini memutih. Semakin besar apinya, semakin
putih ia. Untuk pertama kalinya, Jasin tersenyum sampai gignya terlihat.
“menurutmu apa ini?” tanya Jasin. Kuuuuuuuur. “ya, menurutku juga begitu.
Apa ada pemiliknya? Aku selalu suka air mata.” Unggar tidak mengerti sebenarnya
apa yang dibicarakan oleh Jasin, begitupun sebaliknya. Jasin hanya menganggap
kukuran Unggar adalah balasan logis dari pertanyaan dan pernyataannya. “indah
sekali, aku tidak tahu ada benda seindah ini di tempat ini.” kukuuuuur, kukuuuuuur. “menurutmu
begitu? Baiklah akan kucoba.” Jasin mengulurkan tangan kanannya, menggapai
benda putih yang melayang-layang dalam api.
Seharusnya api akan menimbulkan
efek panas, atau terbakar pada apapun yang disentuhnya. Sewajarnya api pada
umumnya, tapi api ini tidak. Jari-jari di tangan Jasin tidak terbakar, merasa
panaspun tidak. Malah sebaliknya, Jasin merasa seperti mencelupkan tangannya ke
dalam air di sungai, segar, dan dingin. Seketika setelah tangannya masuk ke
dalam api, warna api itu berubah membiru. Menarikan lidah api biru diantara
merah dan kekelaman tanah tandus itu, selayaknya sebuah mercusuar di tengah
badai api. Jemari Jasin menggapai benda yang menurutnya Kristal Air Mata.
Setelahnya, seluruh tubuhnya dibanjiri cahaya putih membutakan. Dan disaat yang
sama, Jasin tertawa.
Jasin
terbahak-bahak,tertawa-,tersenyum, menyeringai. Di atas kursi di dalam
kantornya, dengan mata yang terpejam di bawah lampu yang menggantung, Jasin
menyeringai di tengah tidurnya.
“pak, bangun pak, ada yang ingin bertemu.”
Seorang wanita yang sepertinya adalah sekretarisnya membangunkannya. Wanita ini
sudah memperhatikan Jasin sejak membuka pintu ruangannya. Awalnya ia enggan dan
takut, melihat atasannya tersenyum dan tertawa sendiri dengan mata tertutup. Jangan-jangan Pak Jasin kesurupan? Waduh
gimana dong, nanti kalau dilihat sama pegawai lain Pak Jasin disangka kesurupan
penunggu gedung ini, terus dibawa ke rumah sakit jiwa, terus,terus gajiku siapa
yang bayar? Ah mending aku bangunin aja deh siapa tahu Cuma ngigau. Sepertinya
kabar bahwa gedung kantor Jasin berpenunggu sudah mendarah-daging di antara
para pegawainya. Dengan tangan bergetar dan tubuh menjaga jarak aman antara
dirinya dan atasannya, si sekretaris berusaha membangunkan Jasin, dan tanpa ia
sangka, ia sukses.
“pak, bangun pak.” Setelah kalimat
itu selesai diucapkan oleh si sekretaris, mata Jasin perlahan terbuka. Wanita
itu pendek, berisi dan berambut lurus sebahu. Suaranya yang cempreng sebenarnya
sudah cukup untuk membangunkan satu ruangan kelas yang seluruh muridnya
tertidur. Tapi sepertinya karena ia berhadapan dengan atasannya, ia mengurangi
volume suaranya cukup kecil untuk membangunkan satu orang yang sedang mengigau.
Cukup kecil untuk tidak terkesan mengganggu dan mengurangi resiko gajinya
dipotong atau malah tidak dibayar sama sekali. Jasin sepertinya dikenal sebagai
atasan yang mengerikan dan sangat tega memotong gaji pegawainya. “ya,ya saya bangun, ada apa Greta?” suaranya
lemas, selayaknya orang bangun tidur. Jasin sebenarnya tidak ingat dengan nama
sekretarisnya, tapi berkat tanda pengenal di dada kanan sekretarisnya itu, ia
ingat, “Greta Mawarni”
“sudah jam 4 pak, dan ada perempuan
yang ingin bertemu. Saya sudah bilang kalau bapak tidak menerima tamu kalau
tidak ada janji, tapi ia hanya bilang kalau bapak pasti mau menerima tamu
seperti dia pak, tapi kalau bapak tidak mau terima bisa langsung saya
panggilkan satpam pak untuk mengusir….” Telapak tangan kanan Jasin menghentikan
ocehan Greta yang mengulang kembali kalimatnya saat pertama kali membangunkan
Jasin. Jasin mengusap-usap wajahnya beberapa kali dengan tangan kirinya,
mencoba menyadarkan diri dan terlihat segar, sambil merapikan rambutnya dengan
jari-jarinya. Berkaca sejenak dengan ponselnya untuk mengecek apa wajahnya
sudah cukup layak untuk menyambut tamu. “baik, tidak perlu, biar saya temui.
terima kasih Greta, suruh dia masuk.” Jasin tersenyum hangat ketika mengucapkan
itu. melihat senyuman Jasin, Greta menganggapnya sebagai sebuah tanda dirinya,
lebih tepatnya gajinya, dalam kondisi darurat. Senyuman hangat dari Jasin
bermakna tunggal bagi pegawainya, gaji atau pekerjaan yang tidak selamat.
Tidak sedikit korban senyuman Jasin
di kantor itu, banyak dari mereka setelah diberikan senyuman hangat esoknya
langsung mendapat surat pemecatan di atas meja. Tidak ada yang tahu kenapa, dan
tidak ada yang tahu penyebabnya. Yang mengherankan bagi para pegawai adalah,
beberapa hari setelah pegawai-pegawai tersebut dipecat, mereka kembali ke
kantor tersebut, dan langsung ke ruangan Jasin. Entah membicarakan apa, yang
mereka ketahui adalah setelah mereka keluar dari ruangan Jasin, wajah mereka
terlihat lega, dan tidak ada yang tahu lagi kenapa mereka terlihat begitu lega,
dan apa yang melegakan mereka. Yang lebih menganehkan bagi mereka adalah,
ketika ditanyakan, mereka hanya menjawab dengan pernyataan-pernyataan ambigu
yang sebenarnya tidak menjawab. Greta yang sudah cukup lama di kantor itu,
hanya menganggapnya sebagai sebuah pernyataan bunuh diri, atau apapun itu yang
berhubungan dengan kematian.
Seorang wanita masuk ke ruangan
Jasin. Melihatnya Jasin langsung teringat dengan Unggar, si gagak abu-abu
berekor merah menyala yang menemaninya di mimpinya. Wanita itu berkulit putih,
namun tidak terlalu putih, cukup putih untuk hitungan wanita yang tinggal di
negara tropis. Tidak pucat, dan tidak putih merona seperti model iklan produk
perawatan kulit. Matanya tidak sipit, sedikit lebar. Namun tidak terlalu lebar.
Rambutnya, hitam ke-abu-abuan dengan ujung belakang dicat merah gelap. Persis
seperti Unggar. Jasin sedikit terbatu saat melihat wanita yang ia belum tahu
namanya itu. Namun Jasin merasa seakan ia sudah akrab dan mengenal wanita itu
seumur hidupnya. “selamat sore, sebelum saya menanyakan tujuan anda menemui
saya, boleh saya tahu dengan siapa saya berbicara?” tanya Jasin sopan, tidak
lupa menyelipkan senyum ramah pada wanita itu.
“nama saya Anggun, Anggun Pramesti.”
Balas wanita itu ramah. ia sangat mengingatkan Jasin dengan Unggar. Meskipun
akan terdengar sangat aneh, Jasin ingin sekali mengucapkan Unggar padanya, dan berharap Anggun akan menanggapinya, namun ia
urungkan keinginannya. “baiklah Nona Anggun, apa yang bisa saya bantu? Saya
tidak biasanya menerima tamu tanpa ada janji sebelumnya, saya yakin sekali
sekretaris saya sudah memberitahukan itu pada anda.” Jasin tenang ketika
mengatakan itu, dengan tatapan dan senyum ramah yang sekilas memberikan kesan
ramah padahal tidak sama sekali. “ya, sekretaris anda sudah memberitahukan saya
soal itu. Saya yakin sekretaris anda juga mengatakan hal lain selain kehadiran
saya?” tanya Anggun datar. Tas kecil berbentuk kotak yang ia selempangkan
dipindahkannya kepangkuannya. “ia bilang bahwa saya pasti akan menerima tamu
seperti anda. Tolong jelaskan, apa yang membuat anda yakin saya akan menerima
anda? Saya bisa saja langsung memanggil satpam untuk mengusir anda dari sini
dan menuntut anda karena menerobos masuk tanpa izin.”
Anggun diam. Ia hanya mengambil
sepucuk amplop coklat dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja Jasin. “
yang ada di dalam amplop ini, adalah jaminan bahwa anda pasti menerima saya.”
Balas Anggun dingin. Jasin meraih dan membuka amplop itu, dan membaca isinya
perlahan.
SURAT PENAHANAN
UNTUK : JASIN BRAHMANTO, KEPALA BIDANG PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
DEPARTEMEN KESEHATAN NEGARA
ATAS TUDUHAN :1.MENJUAL RAHASIA NEGARA
2.TERLIBAT PEMBUATAN DAN UJI COBA SENJATA BIOLOGIS
3. TERLIBAT
KERJASAMA DENGAN ORGANISASI TERORIS
Tepat beberapa detik setelah Jasin membaca
kata-kata yang tercetak di surat tersebut, Anggun berbicara pada jam tangannya
“sekarang.” dengan nada yang sama tenang dan dingin seperti sebelumnya.
Langsung, beberapa pria bersenjata lengkap, dan berpakain militer masuk ke
ruangan Jasin, menodongkan senjata laras panjang dengan laser penanda target
tertuju ke kepalanya. Otomatis Jasin berdiri dengan tangan terangkat. Ia tahu,
ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi saat ini. Ia tahu gedung ini dikepung, dan
untuk semakin menjatuhkan namanya, ia akan digondol keluar dari gedung ini
dengan seluruh pegawai menyaksikannya dalam kondisi terborgol dan di kelilingi
oleh orang-orang militer. Pembunuhan citra ini akan semakin diperkuat dengan
media-media yang menunggu di depan gedung dengan kamera-kamera dan wartawan
bawel memburu berita hangat ini. KEPALA
BIDANG LITBANG DEPKES DITANGKAP! Sudah pasti menjadi tajuk utama
koran-koran dan media sosial besok pagi. Jasin sedang dibunuh perlahan oleh
pelindung negaranya.
Anggun berdiri, membalikkan badan
dan keluar dari ruangan Jasin. Sebelum ia menghilang dari pandangannya, Jasin
memanggilnya cukup kencang hingga Anggun mendengarnya. Jari-jari para pria
bersenjata di ruangan itu langsung siaga, bunyi-bunyi ceklik berantai membisingkan
telinga. Anggun langsung mengangkat tangan tanda aman, membiarkan Jasin bicara
“ jika kita bertemu lagi, boleh aku memanggilmu Unggar?” tanya Jasin pelan.
“kita tidak akan bertemu lagi Jasin, saya pastikan itu.” balas Anggun dingin
seraya meninggalkan ruangan.
Jasin merasa dirinya seharusnya
marah, dan kesal di saat seperti ini. tapi amarahnya enggan keluar, enggan
kesal. Tindakan-tindakannya memang bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, apalagi
disesali. Pipinya basah, air matanya mengalir perlahan dari matanya, menetes
perlahan menderas. “jalan! Jangan mencoba melawan apalagi melarikan diri,
tangis anda tidak akan meringankan hukuman yang akan anda hadapi.” Perintah
pria di belakangnya yang menodongkan senjata ke punggungnya. Jasin hanya bisa
menurut, meskipun ia tidak setuju dengan pendapatnya tentang tangis yang
menetes dari mata Jasin. Ia menangis bukan karena penyesalan, tapi ini pertama
kali dalam hidupnya, ia merasakan emosi, pertama kalinya ia menangis. Pertama
kalinya ia merasakan satu-satunya hal yang ia sukai, air mata. Dan ia kini bisa
berharap dan membayangkan air matanya mengkristal, seperti Kristal air mata
yang ia temui dengan Unggar di mimpinya.
No comments:
Post a Comment