Thursday, August 11, 2016

PEMANDANGAN YANG (TIDAK) BISA DINIKMATI

   
PEMANDANGAN YANG (TIDAK) BISA DINIKMATI
OLEH : HAFENDRA ADAM

            Melihat orang mati seharusnya tidak begitu mengejutkan. Sama saja sebenarnya, bedanya hanya lebih banyak darah dan kulitnya lebih lebam dan busuk dari biasanya. Biasa dalam artian orang hidup. Setidaknya setelah melihat orang mati kau bisa bilang pada teman-temanmu “aku baru saja melihat mayat!!” lalu teman-temanmu akan bertanya-tanya hal-hal yang mudah ditebak seperti naskah dialog tak terlihat yang muncul di kepalamu.
            Tapi melihat mayat yang bertebaran seperti pasir di pantai tidak seperti yang dibayangkan. Memang, kalimat-kalimat seperti “aku melihat mayat!” atau “mayatnya banyak sekali!!” atau mungkin “apa mereka akan jadi zombie?” kalimat terakhir sebenarnya lahir begitu saja jika kau memiliki hobi menonton atau bermain game zombie. Mengingat Jasin tidak pernah memainkan permainan itu, jadi ia tidak begitu memikirkannya.
            Mayat-mayat berserakan, lalat-lalat bergerombol, belatung-belatung pesta pora, dan darah bagai jadi genangan air becek setelah hujan turun. Tanah berubah warna dari coklat jadi warna kusam, menghitam bagai tersiram tinta pulpen berbau busuk. Pemandangan itu tersebar cukup luas untuk memenuhi seluruh daya pandang Jasin, tanah kotor, bau, darah dan mayat ditutupi oleh langit mendung tanpa hujan. Hanya itu. Jasin tahu bahwa ini hanya mimpi. Tapi ia menikmatinya. Pemandangan ini baginya seperti pantai atau puncak gunung bagi beberapa orang. Memberikan ketenangan dan pencerahan yang dimengerti hanya olehnya. Bukan menyenangkan, tapi cukup menenangkan. Bagi Jasin setidaknya.
            Jasin seorang diri di mimpi itu. Berjalan seorang diri melewati mayat-mayat. sambil sengaja menginjak beberapa diantaranya. Ia melihat ke tanah, beberapa tulang patah ia injak. Tulang tangan dan kaki. Sebuah tengkorak ia tendang seperti menendang bola plastik. Cukup keras sampai tengkorak tersebut hilang dari pandangannya. Tulang-tulang kotor yang kehilangan putihnya. Menenangkan bukan?
           
            Di depan tumpukan mayat-mayat berseragam, tentara mungkin, karena di pinggang mereka terdapat sarung pedang, Jasin berlutut. Menusukkan jarinya ke rongga mata salah satu mayat yang belum lama mati sepertinya. Ia main-mainkan bola mata mayat tersebut. Jasin menganggapnya seperti bola pingpong, hanya saja lebih berlendir dari biasanya dan lebih kenyal. “kalau kau masih hidup mungkin kau sedang di belakang meja sambil masturbasi. Beruntunglah kau sudah mati.” Jasin tentu saja masih sadar bahwa ia sedang bermimpi, jadi sebenarnya ia tidak tahu apakah ini benar-benar orang mati atau bukan. hanya saja ia senang membayangkan mayat-mayat ini memiliki masa depan dan masa lalu tragis, atau sekedar untuk mainan imajinasinya saja. Bola matanya ia lempar-lempar ke udara, membiarkannya merasakan udara busuk lalu jatuh kembali ke tangannya. Yang setelah itu ia injak dan kembali berjalan menikmati pemandangan.
            Burung-burung gagak dan lalat-lalat beberapa ada yang sedang nangkring di atas sebuah potongan tulang yang sepertinya tulang paha. Memangsa belatung-belatung yang sedang berjalan-jalan santai. Beberapa ada yang terbang mengelilingi lapangan tersebut, mencari apa, hanya burung itu yang tahu. sementara para lalat hanya berputar-putar di atas bau busuk dan daging-daging berdarah hitam. Jasin sangat suka pada lalat. Saking sukanya ia sering menganalogikan dirinya sebagai seekor lalat yang mencari tempat-tempat bau  dan kotor. Karena menurut Jasin, lalat tidak pernah memilih-milih tempat kotor yang spesifik, yang penting bau sudah cukup.
            Jasin melihat lalat sama seperti ia melihat emas, atau uang, atau saham. Tidak peduli siapa yang memegang yang penting ia punya kuasa. Hanya saja emas benda mati, dan lalat makhluk hidup. Tapi sama saja bagi Jasin. Sesama ia memandang orang-orang yang ia temui ketika ia bangun. Mati atau hidup sama saja baginya. Tidak berarti apa-apa.
            Sedari kecil Jasin bukan anak yang sering dibully, dihina atau diolok-olok. Malah sebaliknya, Jasin adalah anak emas, cerdas, ramah dan mudah berbaur dengan siapa saja. sering kali dijuluki sebagai Emas Murni karena ia sama sekali tidak memiliki kekurangan di mata teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Ditambah dengan parasnya yang rupawan, wawasannya yang luas dan keahliannya berolahraga, semakin mempertegas statusnya sebagai seorang idola dan panutan. Citra tersebut terus dibawanya hingga ia menduduki kursi pegawai, sampai tiba di jabatan tertinggi dalam sebuah badan pemerintahaan.
            Namun di masa yang sama, sedari kecil Jasin memiliki keahlian menutupi apa yang menjadi pendapatnya. Gagasan yang terbentuk semasa kecil hingga terbangun di masa dewasanya. Dan Jasin kecil tahu juga bahwa jika gagasannya ia tampilkan di muka umum, atau di depan orang-orang yang menganggapnya sebagai seorang idola, semua keagungan yang terpancar dan ia bangun perlahan sedari kecil akan hilang sekejap mata.
            Gagasan sepele seperti yang tertulis dalam buku hariannya sewaktu mencapai gelar sarjana “ senyum palsu adalah komoditas dan kebohongan adalah mata uangnya, seperti dolar dan saham, investasi terbaik dan termudah adalah citra yang dibangun dari senyum palsu, untuk dunia yang di isi mayat hidup.”
Kakinya harus terus melangkah, melewati mayat dan bangkai. Kali ini ia berhenti di depan dokter-dokter, dan tabib dan para penyembuh, karena sebagian besar dari mereka mengenakan jubah putih dan pakaian bedah berwarna hijau. ia mengeluskan jarinya yang kurus dan kasar ke pipi mereka yang masih meneteskan darah, satu persatu, meskipun tidak lagi berwarna merah, darah hitam busuk tetap dihitung darah bukan?. Lalu diambilnya satu kepala yang sudah terputus dari lehernya “kalian para pahlawan, para penyabar, begitu mulia, begitu agung, begitu rentan. Apa mimpi-mimpi kalian seindah slip gaji dan pengakuan yang kalian dapat? Semua nyawa dan potongan tubuh yang gagal kalian selamatkan, semua anak dan orang tua yang kalian nyatakan mati, apa mereka menghuni mimpi-mimpi kalian tiap pagi, siang, sore dan malam? Ceritakan padaku, kuyakin tidak akan ada yang tahu. oh, aku lupa, kalian sudah mati. Dan ini hanya mimpi, maaf mengganggu, lanjutkan pembusukan kalian.” Jasin mengecup kening mereka satu persatu, bibirnya kotor menghitam dan basah terkena kulit mereka yang sudah berlapis nanah dan darah. Jasin kembali berjalan.
            Ia berhenti di sebuah gundukan tanah yang membukit. Duduk dan melihat ke atas, ke langit. Ia bosan melihat langit yang kusam dan mendung. Ia bosan dengan angin yang menghembuskan udara berbau busuk. ia melepas pandangannya dari langit, mengalihkannya ke depan, lalu ke kiri, dan kanan. Ia bosan melihat mayat, lalat, dan burung gagak. Tentu ia tidak penah melepaskan dirinya dengan kenyataan bahwa semua yang ia nikmati saat ini hanya mimpi. Atau bagian dari seluruh alam mimpinya. Ia berpikiran untuk mengubah pemandangan ini dengan sesuatu yang….lebih bisa dinikmati. Jasin menutup matanya, dan membukanya perlahan.
            Matahari tidak lagi ditutupi awan. ia muncul dalam bentuknya yang bulat dan warnanya yang membutakan. Terang dan panas. Namun warna langit tidak lagi berwarna kusam, tapi semakin gelap, dengan sekilas warna merah, merah pekat seperti darah busuk. langit berwarna merah darah gelap. Dengan matahari di berikan ruang yang pas sekali dengan bentuknya. Angin meniupkan wangi-wangi arang. Tumpukan mayat berganti jadi sebuah kebun api. Api-api yang terbakar dengan rapi setinggi dengkul, menari-nari berdampingan, menyisakan sejengkal ruang diantaranya. Di dalam api itu ada yang terbakar, mengelupas dan menghitam. Burung-burung gagak dan lalat hilang, hanya abu dan percik api yang lalu lalang melintas diterpa angin. Jasin menikmati pemandangan baru ini.
            Jasin melangkah menuruni gundukan tanah itu, tanah dibawahnya tidak lagi becek, mengering kerontang. menuju kebun. Ia memilih satu kobaran yang terdekat dengannya, memperhatikan tiap lekuk dan percikannya, melihat ke dalam api itu ia tahu apa yang menggosong di dalamnya. “mungkin kau bekas seorang wanita cantik dengan tubuh semolek mangga yang baru matang. Manis dan harum memikat. Potonganmu sungguh pas. Dan kau menggosong dengan begitu indah, aku membayangkan kau dikuliti saat kau tidur. Akan ku sampaikan salammu pada pengulitmu jika aku bertemu dengannya.”
            Berkhayal adalah sebuah kegiatan yang menyehatkan untuk semua orang, tidak terkecuali Jasin. Baginya membayangkan hal-hal yang tidak mungk in terjadi adalah sesuatu yang menenangkan. Sebuah surga pribadi untuknya menenangkan diri, untuknya sedikit mewaraskan diri. semua yang dilihat dan dirasakan Jasin saat ini, baginya bukan sebuah khayalan, karena istilah “berkhayal” terlalu klise, terlalu lembek. Ia lebih suka dengan kata “menyiksa”. Saat ini di matanya, ia sedang “menyiksa” khayalannya. Sewaktu sadar ia pernah menuliskan ini dalam buku hariannya “ berkhayal sama saja seperti menjadi anak kecil yang menggenggam permen. Hanya saja permennya tidak habis-habis dijilatnya. Di dunia yang penuh keindahan sesaat seperti ini, lebih layak bagiku untuk menyiksa keindahan itu dengan khayalanku. Seperti kata orang suci, segala nikmat yang berlebihan sama saja dengan siksaan. Lidah anak kecil dengan permen yang tidak habis-habis itu pasti lambat laun akan mati rasa, dan giginya akan runtuh dengan sendirinya di dalam mulutnya. Lidah yang mati rasa akan terasa hilang dari mulut, dan gigi yang runtuh akan mencabik daging-daging dalam mulut. Nikmat yang jadi siksaan. Maka mana surga, dan mana yang neraka?”.
            Mata Jasin sudah melihat tujuan lain, api di ujung jalan. Hidung dan telinganya sudah mengakrabkan diri dengan bau api dan suara kobarannya. Matahari sedikit malu, menutup sinarnya dengan awan kelabu yang membuat sinarnya hanya terpancar setengah, tepat ke punggung Jasin. Selagi berjalan ia memandangi sekelilingnya. Tidak ada yang berubah, hanya matahari yang kini dibelakang punggungnya. Tiba-tiba ia terpikir untuk mengundang seseorang, yang hidup tentunya untuk diajaknya berbicara. Tapi ia bingung, ia tidak tahu siapa-siapa yang bisa berkunjung ke mimpinya. Ia kesepian. Bahkan dalam Alam yang Tidak Ada ini, yang bagian dari siksanya terhadap khayalannya sendiri, ia tetap kesepian.
            Seekor burung muncul dari entah mana, dan hinggap di pundaknya. Gagak abu-abu, kalau biasanya gagak berbulu hitam, yang ini berbulu abu-abu seperti…abu. Mata dan paruhnya hitam, sama saja seperti gagak biasanya. Tapi ekornya tidak abu-abu, namun merah, merah kejingga-jinggaan, seperti percikan api. Perubahan warna dari abu-abu ke merah di tubuhnya halus sekali, seperti perubahan warna api di kompor, dari biru ke merah. Jasin tidak begitu terkejut begitu melihat burung itu di pundaknya, malah langsung dielusnya si burung. ia tidak melawan saat dielus Jasin, seakan ia tahu bahwa ia akan disentuh. Tapi setelah dielus, bulu-bulunya meninggalkan abu
di tangannya. Melihat itu Jasin langsung tahu dari mana asal burung itu. Jasin memicingkan senyum ke arah si burung “tahu saja kau aku butuh teman, kunamai kau Unggar bagaimana?”. Burung itu hanya menelengkan kepala ke kanan dan ke kiri, tetap di pundak Jasin. “salam kenal Unggar, aku Jasin.”
            Teman mungkin adalah salah satu kebutuhan yang tidak tertulis. Baik di dunia nyata, maupun mimpi. Entah bisa berbicara dengan kata kata atau dengan kukuran, atau ketukan, atau tenglengan kepala, setidaknya gestur sekecil apapun, bisa dianggap bentuk komunikasi. “apa yang ingin kau lihat? Apa kau ingin melihat padang rumput?” tanya Jasin polos pada Unggar. Kuuur,kukukuuur? Kukur! Balas Unggar lantang. Jasin menangkap itu sebagai bentuk persetujuan. Ia tersenyum kali ini, kecil, memandang gagak di pundaknya yang ia namakan Unggar. “baiklah, setelah aku menemui satu orang lagi, kita ke padang rumput. Ayo kejar aku Unggar!” Jasin berlari kecil, diikuti Unggar si gagak yang terbang rendah sebahu Jasin di belakangnya, menuju sebuah persimpangan, diantara api-api yang membentuk perempatan. Di bawah langit yang merah, awan kelabu dan matahari yang cahayanya menipis, Jasin dan teman barunya mengadu tenaga.
            Tepat di depan api kecil yang nampaknya baru saja dinyalakan, Jasin mengerem larinya. Beberapa detik setelahnya Unggar langsung hinggap di pundaknya. Jasin berlutut, celana birunya semakin kotor, berhias remah-remah tanah kering. Matanya memperhatikan api kecil itu seakan balita, meliuk-liuk liar, bebas, namun terkungkung bara di bawahnya. Di mata hitamnya terpantul tarian api itu seperti cermin hitam yang tidak begitu gelap. Di dalam bara kecil itu melayang-layang benda putih, seukuran dengan kerikil. Namun yang ini berbeda dengan lainnya, jika yang lain menggosong, yang ini memutih. Semakin besar apinya, semakin putih ia. Untuk pertama kalinya, Jasin tersenyum sampai gignya terlihat.
             “menurutmu apa ini?” tanya Jasin. Kuuuuuuuur. “ya, menurutku juga begitu. Apa ada pemiliknya? Aku selalu suka air mata.” Unggar tidak mengerti sebenarnya apa yang dibicarakan oleh Jasin, begitupun sebaliknya. Jasin hanya menganggap kukuran Unggar adalah balasan logis dari pertanyaan dan pernyataannya. “indah sekali, aku tidak tahu ada benda seindah ini di tempat ini.” kukuuuuur, kukuuuuuur. “menurutmu begitu? Baiklah akan kucoba.” Jasin mengulurkan tangan kanannya, menggapai benda putih yang melayang-layang dalam api.
Seharusnya api akan menimbulkan efek panas, atau terbakar pada apapun yang disentuhnya. Sewajarnya api pada umumnya, tapi api ini tidak. Jari-jari di tangan Jasin tidak terbakar, merasa panaspun tidak. Malah sebaliknya, Jasin merasa seperti mencelupkan tangannya ke dalam air di sungai, segar, dan dingin. Seketika setelah tangannya masuk ke dalam api, warna api itu berubah membiru. Menarikan lidah api biru diantara merah dan kekelaman tanah tandus itu, selayaknya sebuah mercusuar di tengah badai api. Jemari Jasin menggapai benda yang menurutnya Kristal Air Mata. Setelahnya, seluruh tubuhnya dibanjiri cahaya putih membutakan. Dan disaat yang sama, Jasin tertawa.
Jasin terbahak-bahak,tertawa-,tersenyum, menyeringai. Di atas kursi di dalam kantornya, dengan mata yang terpejam di bawah lampu yang menggantung, Jasin menyeringai di tengah tidurnya.
 “pak, bangun pak, ada yang ingin bertemu.” Seorang wanita yang sepertinya adalah sekretarisnya membangunkannya. Wanita ini sudah memperhatikan Jasin sejak membuka pintu ruangannya. Awalnya ia enggan dan takut, melihat atasannya tersenyum dan tertawa sendiri dengan mata tertutup. Jangan-jangan Pak Jasin kesurupan? Waduh gimana dong, nanti kalau dilihat sama pegawai lain Pak Jasin disangka kesurupan penunggu gedung ini, terus dibawa ke rumah sakit jiwa, terus,terus gajiku siapa yang bayar? Ah mending aku bangunin aja deh siapa tahu Cuma ngigau. Sepertinya kabar bahwa gedung kantor Jasin berpenunggu sudah mendarah-daging di antara para pegawainya. Dengan tangan bergetar dan tubuh menjaga jarak aman antara dirinya dan atasannya, si sekretaris berusaha membangunkan Jasin, dan tanpa ia sangka, ia sukses.
“pak, bangun pak.” Setelah kalimat itu selesai diucapkan oleh si sekretaris, mata Jasin perlahan terbuka. Wanita itu pendek, berisi dan berambut lurus sebahu. Suaranya yang cempreng sebenarnya sudah cukup untuk membangunkan satu ruangan kelas yang seluruh muridnya tertidur. Tapi sepertinya karena ia berhadapan dengan atasannya, ia mengurangi volume suaranya cukup kecil untuk membangunkan satu orang yang sedang mengigau. Cukup kecil untuk tidak terkesan mengganggu dan mengurangi resiko gajinya dipotong atau malah tidak dibayar sama sekali. Jasin sepertinya dikenal sebagai atasan yang mengerikan dan sangat tega memotong gaji pegawainya.  “ya,ya saya bangun, ada apa Greta?” suaranya lemas, selayaknya orang bangun tidur. Jasin sebenarnya tidak ingat dengan nama sekretarisnya, tapi berkat tanda pengenal di dada kanan sekretarisnya itu, ia ingat, “Greta Mawarni”
“sudah jam 4 pak, dan ada perempuan yang ingin bertemu. Saya sudah bilang kalau bapak tidak menerima tamu kalau tidak ada janji, tapi ia hanya bilang kalau bapak pasti mau menerima tamu seperti dia pak, tapi kalau bapak tidak mau terima bisa langsung saya panggilkan satpam pak untuk mengusir….” Telapak tangan kanan Jasin menghentikan ocehan Greta yang mengulang kembali kalimatnya saat pertama kali membangunkan Jasin. Jasin mengusap-usap wajahnya beberapa kali dengan tangan kirinya, mencoba menyadarkan diri dan terlihat segar, sambil merapikan rambutnya dengan jari-jarinya. Berkaca sejenak dengan ponselnya untuk mengecek apa wajahnya sudah cukup layak untuk menyambut tamu. “baik, tidak perlu, biar saya temui. terima kasih Greta, suruh dia masuk.” Jasin tersenyum hangat ketika mengucapkan itu. melihat senyuman Jasin, Greta menganggapnya sebagai sebuah tanda dirinya, lebih tepatnya gajinya, dalam kondisi darurat. Senyuman hangat dari Jasin bermakna tunggal bagi pegawainya, gaji atau pekerjaan yang tidak selamat.
Tidak sedikit korban senyuman Jasin di kantor itu, banyak dari mereka setelah diberikan senyuman hangat esoknya langsung mendapat surat pemecatan di atas meja. Tidak ada yang tahu kenapa, dan tidak ada yang tahu penyebabnya. Yang mengherankan bagi para pegawai adalah, beberapa hari setelah pegawai-pegawai tersebut dipecat, mereka kembali ke kantor tersebut, dan langsung ke ruangan Jasin. Entah membicarakan apa, yang mereka ketahui adalah setelah mereka keluar dari ruangan Jasin, wajah mereka terlihat lega, dan tidak ada yang tahu lagi kenapa mereka terlihat begitu lega, dan apa yang melegakan mereka. Yang lebih menganehkan bagi mereka adalah, ketika ditanyakan, mereka hanya menjawab dengan pernyataan-pernyataan ambigu yang sebenarnya tidak menjawab. Greta yang sudah cukup lama di kantor itu, hanya menganggapnya sebagai sebuah pernyataan bunuh diri, atau apapun itu yang berhubungan dengan kematian.
Seorang wanita masuk ke ruangan Jasin. Melihatnya Jasin langsung teringat dengan Unggar, si gagak abu-abu berekor merah menyala yang menemaninya di mimpinya. Wanita itu berkulit putih, namun tidak terlalu putih, cukup putih untuk hitungan wanita yang tinggal di negara tropis. Tidak pucat, dan tidak putih merona seperti model iklan produk perawatan kulit. Matanya tidak sipit, sedikit lebar. Namun tidak terlalu lebar. Rambutnya, hitam ke-abu-abuan dengan ujung belakang dicat merah gelap. Persis seperti Unggar. Jasin sedikit terbatu saat melihat wanita yang ia belum tahu namanya itu. Namun Jasin merasa seakan ia sudah akrab dan mengenal wanita itu seumur hidupnya. “selamat sore, sebelum saya menanyakan tujuan anda menemui saya, boleh saya tahu dengan siapa saya berbicara?” tanya Jasin sopan, tidak lupa menyelipkan senyum ramah pada wanita itu.
“nama saya Anggun, Anggun Pramesti.” Balas wanita itu ramah. ia sangat mengingatkan Jasin dengan Unggar. Meskipun akan terdengar sangat aneh, Jasin ingin sekali mengucapkan Unggar padanya, dan berharap Anggun akan menanggapinya, namun ia urungkan keinginannya. “baiklah Nona Anggun, apa yang bisa saya bantu? Saya tidak biasanya menerima tamu tanpa ada janji sebelumnya, saya yakin sekali sekretaris saya sudah memberitahukan itu pada anda.” Jasin tenang ketika mengatakan itu, dengan tatapan dan senyum ramah yang sekilas memberikan kesan ramah padahal tidak sama sekali. “ya, sekretaris anda sudah memberitahukan saya soal itu. Saya yakin sekretaris anda juga mengatakan hal lain selain kehadiran saya?” tanya Anggun datar. Tas kecil berbentuk kotak yang ia selempangkan dipindahkannya kepangkuannya. “ia bilang bahwa saya pasti akan menerima tamu seperti anda. Tolong jelaskan, apa yang membuat anda yakin saya akan menerima anda? Saya bisa saja langsung memanggil satpam untuk mengusir anda dari sini dan menuntut anda karena menerobos masuk tanpa izin.”
Anggun diam. Ia hanya mengambil sepucuk amplop coklat dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja Jasin. “ yang ada di dalam amplop ini, adalah jaminan bahwa anda pasti menerima saya.” Balas Anggun dingin. Jasin meraih dan membuka amplop itu, dan membaca isinya perlahan.
SURAT PENAHANAN
UNTUK : JASIN BRAHMANTO, KEPALA BIDANG PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
DEPARTEMEN KESEHATAN NEGARA
ATAS TUDUHAN :1.MENJUAL RAHASIA NEGARA
2.TERLIBAT PEMBUATAN DAN UJI COBA SENJATA BIOLOGIS
                                    3. TERLIBAT KERJASAMA DENGAN ORGANISASI TERORIS


 Tepat beberapa detik setelah Jasin membaca kata-kata yang tercetak di surat tersebut, Anggun berbicara pada jam tangannya “sekarang.” dengan nada yang sama tenang dan dingin seperti sebelumnya. Langsung, beberapa pria bersenjata lengkap, dan berpakain militer masuk ke ruangan Jasin, menodongkan senjata laras panjang dengan laser penanda target tertuju ke kepalanya. Otomatis Jasin berdiri dengan tangan terangkat. Ia tahu, ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi saat ini. Ia tahu gedung ini dikepung, dan untuk semakin menjatuhkan namanya, ia akan digondol keluar dari gedung ini dengan seluruh pegawai menyaksikannya dalam kondisi terborgol dan di kelilingi oleh orang-orang militer. Pembunuhan citra ini akan semakin diperkuat dengan media-media yang menunggu di depan gedung dengan kamera-kamera dan wartawan bawel memburu berita hangat ini. KEPALA BIDANG LITBANG DEPKES DITANGKAP! Sudah pasti menjadi tajuk utama koran-koran dan media sosial besok pagi. Jasin sedang dibunuh perlahan oleh pelindung negaranya.
Anggun berdiri, membalikkan badan dan keluar dari ruangan Jasin. Sebelum ia menghilang dari pandangannya, Jasin memanggilnya cukup kencang hingga Anggun mendengarnya. Jari-jari para pria bersenjata di ruangan itu langsung siaga, bunyi-bunyi  ceklik berantai membisingkan telinga. Anggun langsung mengangkat tangan tanda aman, membiarkan Jasin bicara “ jika kita bertemu lagi, boleh aku memanggilmu Unggar?” tanya Jasin pelan. “kita tidak akan bertemu lagi Jasin, saya pastikan itu.” balas Anggun dingin seraya meninggalkan ruangan.
Jasin merasa dirinya seharusnya marah, dan kesal di saat seperti ini. tapi amarahnya enggan keluar, enggan kesal. Tindakan-tindakannya memang bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, apalagi disesali. Pipinya basah, air matanya mengalir perlahan dari matanya, menetes perlahan menderas. “jalan! Jangan mencoba melawan apalagi melarikan diri, tangis anda tidak akan meringankan hukuman yang akan anda hadapi.” Perintah pria di belakangnya yang menodongkan senjata ke punggungnya. Jasin hanya bisa menurut, meskipun ia tidak setuju dengan pendapatnya tentang tangis yang menetes dari mata Jasin. Ia menangis bukan karena penyesalan, tapi ini pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan emosi, pertama kalinya ia menangis. Pertama kalinya ia merasakan satu-satunya hal yang ia sukai, air mata. Dan ia kini bisa berharap dan membayangkan air matanya mengkristal, seperti Kristal air mata yang ia temui dengan Unggar di mimpinya.
             

No comments:

Post a Comment