Thursday, October 1, 2015

Memori



            Sudah tak terhitung berapa banyak hal yang kutinggalkan begitu saja tanpa kuselesaikan. Tidak perlu kuingat-ingat, semua sudah menumpuk begitu saja memohon dan menagih untuk kusapa. Mereka meringis, menangis, menjerit didalam gua, seperti monster. Makhluk-makhluk yang kukutuk untuk menunggu, tanpa tahu kapan akan kusapa kembali.
            Belum lama kudengar dari salah seorang muridku, salah satu dari mereka kehilangan kesadaran dalam kelas, aku lupa mata pelajaran apa. mereka menyangka itu kesurupan. Tidak heran, ditanah antah berantah seperti ini banyak kasus-kasus berbau supranatural seperti kesurupan atau santet dan lain lainya. Dan seperti kaum terdidik yang merasa dirinya terbuang disini, aku menolak untuk percaya.
            Aku ingat sekali salah satu alasan terkuatku untuk menerima pekerjaan di tempat ini. Melarikan diri. ya, argumen dan satu-satunya pendorong bagiku merelakan diri kepelukan tanah yang katanya surga tersembunyi di tanah Jawa. Surga? Yang benar saja, tempat ini tak terurus, masyarakatnya masih dibodohi superstisi, pejabat korup, dan satu-satunya hal di tempat ini yang mendekati frase “surga tersembunyi” adalah air terjun raksasa dipinggir desa, itupun dilarang untuk dikunjungi, karena katanya tempat itu adalah tempat peristirahatan nenek moyang penduduk. 
            Sudah 7 tahun aku tinggal disini. Berperan sebagai seorang pelayan publik teladan yang datang dari kota, dianggap selayaknya seorang ksatria berkuda putih. Yang datang untuk membawa para penduduk dan masa depan mereka menuju dekapan Tuhan. Aku bisa mendapatkan apa saja yang kumau hanya dengan menyelipkan gelarku, “guru”. Hormat, rumah, berkuasa dan ditakuti, aku sudah seperti Julius Caesar. Tanpa mereka tahu niat dan tujuanku ada disini. Apa yang selalu di idam-idamkan kaum proletar sejak dahulu kala, sebuah pelarian dari tanggung jawab, dan iblis masa lalu yang selalu menghantu. Dan kini, masa lalu itu datang kembali.
            “sudah berapa lama kamu mengabdi disini?” ucap suara kasar dalam gelap, lampu ruangan enggan menyentuh tubuh orang itu. laki-laki paruh baya sepertinya, dilihat dari bayangannya, kepalanya botak.
            “tidak perlu basa-basi pak, bapak mau apa lagi?” balasku ketus. Dompet dan telepon selularku disimpan mereka, para punggawa kenangan busuk. Kawanan tidak jelas yang tiba-tiba datang mendobrak pintuku subuh-subuh, dan membawaku kesini, ke bangunan yang sekilas terlihat seperti rumah biasa. Tapi percaya padaku , ini bukan rumah biasa. Dalamnya diisi barang-barang aneh untuk menyiksa manusia, seperti rumah jagal. Pisau-pisau dan golok dihiasi darah-darah segar digantung ditembok-tembok. Dan barang-barang aneh penyiksa lainnya yang tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata, potongan tangan, jari dan kaki tergeletak sembarangan dipojok-pojok ruangan. Pelarianku sia-sia.
            “ga perlu galak-galak juga Dri, kamu sekarang sama keluarga. Masa kayak gini kamu perlakuin kita, padahal dulu kamu kalau ada apa-apa lapornya ke kita, lupa kamu ya? Apa tinggal di kampung ini buat kamu jadi kacang lupa kulit?” Laki-laki banyak omong ini tidak tahu diri juga rupanya, sombong sekali dia sekarang, memangnya dengan dia memainkan pisau lipat seperti itu di depanku akan membuatku takut? Rupanya ia lupa waktu jarinya berlumuran darah disisir besi tempa lalu menangis merengek didepanku memohon di obati. Tanganku sudah gatal  untuk menusuk lehernya dengan golok bermandikan darah disampingku yang sudah meronta-ronta untuk kutanamkan ke jantungnya. Wajahnya sungguh menggoda untuk kuinjak dan kuludahi, dan ingin aku melihat matanya saat jarinya perlahan kupisahkan dari tangannya. Aku yakin permohonan ampunmu akan jadi kudapan sore yang nikmat.
            “Loka! banyak omong kau! Satu kata lagi keluar dari mulutmu, akan kupotong bibirmu! Anak pungut kurang ajar!” sahut seorang pria tua dari ujung ruangan. Pak Mitro.
            “Adri! Kau seharusnya bisa berlaku lebih baik dari ini!”
            “Berlaku seperti apa lagi Pak? Dia pengkhianat, meninggalkan kita begitu saja tanpa kabar, perilakunya pada kita hari ini hanya sedikit dari pembangkangannya selama 9 tahun ini. sudahlah pak, tidak perlu bermanis-manis lagi, langsung saja, biarku…”
            Kalimat Loka tidak pernah diselesaikan. Yang kulihat tiba-tiba seorang gadis remaja berambut pendek berdiri tepat disamping Loka. Ditangan kirinya berdiam pisau kecil sepanjang botol aqua kecil penuh bercak darah segar. Wajahnya polos tanpa ekspresi, seperti mayat hidup. Wajahnya sangat asing, didikan baru Pak Mitro? Sudah gila orang tua ini.
            “Terima kasih Ai.” Ucap pak Mitro santai sambil menendang kepala Loka yang tergeletak di atas lantai tanah.
            “sebenarnya ucapan Loka tadi ada benarnya juga, tidak perlu aku bermanis-manis lagi. tujuanku menemuimu hari ini adalah untuk mengajakmu kembali kepadaku. Aku butuh seorang Adri disampingku untuk menjadi penasihat di perusahaanku.” Dasar orang tua munafik bau tanah. Bermanis-manis? Otakmu benar-benar sudah dikotori nafsu, ketika ada maunya langsung memasang senyum. Menjijikan kau, jas putihmu tidak akan bisa menutupi kekotoran hati dan otakmu pak tua. Kalau bisa ingin kukalungkan tali ini ke lehermu dan kugantung di Bundaran HI.
            “bapak sudah tahu jawaban saya, daripada saya menggunakan kekerasan untuk menjawab pertanyaan bapak yang amat sangat sopan, ada baiknya bapak mengerti sendiri apa jawaban dari saya.” Mataku enggan kuhadapkan pada wajahnya. Aku masih memberikan padanya kesempatan untuk melepaskan ikatanku, mengembalikan dompet dan ponselku, lalu angkat kaki dari desa ini agar aku tidak tergoda untuk mengotori kepalanku dengan darah busuk.
            “seharusnya bapak tidak menahan anjing penjaga bapak, biarkan saja ia menjemput ajal lebih awal.” Wajah si gadis memerah seperti tomat busuk, kulit pucatnya sudah tidak terlihat, hanya merah, dibakar amarah. Bagus, semakin marah dia, semakin mudah ia kuberi pelajaran. Pak Mitro hanya menatapnya bengis dan menunduk, tangan Pak Mitro bagai portal besi besar yang menutupi langkahnya. Kuperhatikan wajahnya ketika mata Pak Mitro menghantam matanya. Hanya anjing betina kelaparan ternyata dia. Gadis bodoh.
            “jangan kurang ajar Adri. Kau tidak ingin aku menggunakan cara yang lebih kasar dari ini.”
            “Pak, buat saya saja kalimat bapak tadi sudah sangat berlawanan dengan tindakan bapak terhadap saya. Barang-barang pribadi saya disita, saya diculik, saya diikat. Sekarang saya ingatkan kembali kepada bapak dan binatang-binatang peliharan bapak yang ada disini untuk pergi dari sini, dan biarkan saya menjalani kehidupan saya yang baru. Ini peringatan terakhir dari saya.” Kunaikkan nadaku sedikit, mempertegas pernyataanku. Kuakui kesabaran dan tubuhku sudah mulai haus teriakan-teriakan minta ampun dan suara pukulan dan darah.
            “Aku satu-satunya keluargamu didunia ini Dri, aku tidak tega melihat darahmu bercecer begitu saja karena kau membuat amarahku meledak. Kau tidak ingin aku menyesali keputusanku Dri..” dasar orang tua tolol, kau memejamkan mata sambil mengatakan itu padaku? kau meremehkan aku Mitro. “Bapak seharusnya menyesal sekarang.” Ucapku tenang, ditanganku sekarang salah seorang dari cecak yang dibawanya meronta-ronta. Kasihan celanaku, dizinahi kencing cecak.
            Mata Pak Mitro hanya bisa membeku ketika melihat kursi didepannya kosong dan tambang hitam yang tadinya mengikatku terputus kasar. Dan disampingnya sudah terkapar mayat tak berkepala Loka. Kesalahannya yang paling fatal. Ai sudah menatapku tajam, seakan seperti serigala betina yang akan mencabik-cabik tubuh lawannya. tapi tangan Pak Mitro masih menahan tubuhnya, tidak menurun sedikitpun. Kenapa Pak tua? Takut kehilangan satpam?
            “ada baiknya kau lepaskan saja anjing itu, kasihan dia, kau tidak ingin dia mati kehausan kan?” pancinganku berhasil, di bebaskannya Ai. Sekejap dia sudah disampingku, terlihat sedikit darah dipisaunya, darahku. Pipiku dikecupnya. Besi dingin di tangannya mendesis pelan, matanya dipenuhi amarah. Emosi menguasainya, membuatnya sembrono. Ia tidak sadar sebuah kayu kecil sudah tertancap di tengkuknya. Seluruh tubuhnya gemetar, mati rasa mulai datang. Pisaunya lepas dari genggamannya. Kuambil pisaunya, ku hibur diri sebentar sambil mengukir huruf Z besar dileher cecak yang menzinahi celanaku lalu kutanamkan pisau ke dahinya, siapa kira teriakan seekor cecak akan begitu mengganggu.
            Ai sudah tersungkur di tanah, darah segar mengalir pelan dari lehernya. Tapi memang, robot akan selalu mematuhi perintah, ia masih meronta-ronta merayap kearahku. Matanya masih dipenuhi amarah, seakan hanya itu yang membuatnya masih bertahan hidup. Kasihan dia, tak perlu ia menderita lebih lama lagi. darah segar mengotori baju safariku saat kuhantam kepalanya dengan kursi tempatku diikat tadi. Sekarang tinggal satu hama lagi yang harus kuberantas, Mitro.
            “memang, tidak salah keputusanku mencarimu Dri, kaulah yang paling tepat mendampingiku.” Suara tengkorak yang diberkahi ludah setan, dasar makhluk laknat. Kuhampiri dia perlahan, ditanganku pisau yang mencabut nyawa anjing penjaganya, Ai masih haus darah. “apa kalimat itu yang dulu yang kau sampaikan pada ayahku sebelum ia mati kau bunuh? Manis sekali bibirmu Mitro, mungkin akan sangat menghibur apabila kupotong lalu kupersembahkan kepada para semut merah, kau tahu mereka sangat menyukai segala sesuatu yang manis.” Mitro tahu persis bahwa aku mampu dan dengan senang hati melakukan itu, terlihat jelas dari langkah-langkah mundurnya, yang didorong rasa takut. “tidak perlu kau bunuh aku Adri, kau tahu aku selalu memegang kata-kataku, kekuasaan yang akan kuberikan padamu ini absolute, tidak aka nada yang bisa mengganggu gugat, selama kau mengabdi kembali padaku.” suaranya gemetar, semakin kering kerontang, persis seperti tengkorak. Kematianmu tidak akan tanpa rasa sakit Mitro. Pisau ditanganku kulempar tepat mengarah kesepatunya, harga dan kelas tidak menyelamatkan kakimu dari besi dingin ternyata. Rumah itu diisi teriakan sebuah tengkorak yang tidak lama lagi akan menyatu dengan tanah. Sebuah opera bagi telingaku. Kucabut pisau, ia terjatuh, tangannya memegangi telapak kakinya yang kini bermandi darah. Kuinjak dadanya, ringkih sekali, mungkin bila kutambah sedikit tenaga akan hancur. Tapi tidak, aku masih butuh nyanyian dari paru-parunya. Kusayat pelan bibirnya, hingga mulutnya tidak lagi memiliki mahkota yang ia gunakan untuk mengecup istrinya. Teriakannya makin memekakan telinga, semakin indah, semakin…memuaskan. “aku adalah pria yang memegang omonganku Mitro, seharusnya kau ingat itu.” bisikku pelan ditelinganya. Cara paling menyenangkan untuk membunuh orang adalah dengan membiarkannya mati perlahan, seperti yang akan kulakukan sekarang. Dipembuluh darahnya sudah tertumpuk dosa dan najis-najis yang membiarkannya hidup cukup lama, jadi ada baiknya apabila kupotong pembuluh darah yang berdiam ditangan kirinya, lalu membiarkan darahnya mengotori tanah. Sepersekian detik ketika besi dingin menyentuh tangannya, nafas Mitro mulai pendek dan hidungnya sudah dipenuhi darah, ingus dan tangis, lucu sekali. Cukup satu gesekan dalam dan tepat untuk memotong pembuluh darahnya, lalu biarkan alam mengerjakan sisanya.
            “A…..d.d…d.d..rr……” sekarang suaranya lebih menyerupai seekor bayi tikus got yang terjepit pintu, menggemaskan. “kau tidak mau mati lebih cepat kan? Lebih baik kau diam.” Kakiku melangkah keluar dari bangunan tua itu, meninggalkan Mitro mati ditengah rumah penyiksa entah apa.
            Matahari sudah tenggelam ternyata, adzan maghrib sudah berkumandang. lebih baik aku pulang cepat-cepat lalu mandi, besok harus mengajar. Tapi akan menyenangkan sepertinya bila aku memanfaatkan gelarku didesa ini untuk sekali saja. Kenangan, tidak selamanya menjadi kanker di otak, terkadang bisa menjadi olahraga yang paling dibutuhkan.

No comments:

Post a Comment