Sudah tak
terhitung berapa banyak hal yang kutinggalkan begitu saja tanpa kuselesaikan.
Tidak perlu kuingat-ingat, semua sudah menumpuk begitu saja memohon dan menagih
untuk kusapa. Mereka meringis, menangis, menjerit didalam gua, seperti monster.
Makhluk-makhluk yang kukutuk untuk menunggu, tanpa tahu kapan akan kusapa
kembali.
Belum lama
kudengar dari salah seorang muridku, salah satu dari mereka kehilangan
kesadaran dalam kelas, aku lupa mata pelajaran apa. mereka menyangka itu
kesurupan. Tidak heran, ditanah antah berantah seperti ini banyak kasus-kasus
berbau supranatural seperti kesurupan atau santet dan lain lainya. Dan seperti
kaum terdidik yang merasa dirinya terbuang disini, aku menolak untuk percaya.
Aku ingat
sekali salah satu alasan terkuatku untuk menerima pekerjaan di tempat ini.
Melarikan diri. ya, argumen dan satu-satunya pendorong bagiku merelakan diri
kepelukan tanah yang katanya surga tersembunyi di tanah Jawa. Surga? Yang benar
saja, tempat ini tak terurus, masyarakatnya masih dibodohi superstisi, pejabat
korup, dan satu-satunya hal di tempat ini yang mendekati frase “surga
tersembunyi” adalah air terjun raksasa dipinggir desa, itupun dilarang untuk
dikunjungi, karena katanya tempat itu adalah tempat peristirahatan nenek moyang
penduduk.
Sudah 7
tahun aku tinggal disini. Berperan sebagai seorang pelayan publik teladan yang
datang dari kota, dianggap selayaknya seorang ksatria berkuda putih. Yang
datang untuk membawa para penduduk dan masa depan mereka menuju dekapan Tuhan.
Aku bisa mendapatkan apa saja yang kumau hanya dengan menyelipkan gelarku,
“guru”. Hormat, rumah, berkuasa dan ditakuti, aku sudah seperti Julius Caesar.
Tanpa mereka tahu niat dan tujuanku ada disini. Apa yang selalu di idam-idamkan
kaum proletar sejak dahulu kala, sebuah pelarian dari tanggung jawab, dan iblis
masa lalu yang selalu menghantu. Dan kini, masa lalu itu datang kembali.
“sudah berapa lama kamu mengabdi
disini?” ucap suara kasar dalam gelap, lampu ruangan enggan menyentuh tubuh
orang itu. laki-laki paruh baya sepertinya, dilihat dari bayangannya, kepalanya
botak.
“tidak perlu basa-basi pak, bapak
mau apa lagi?” balasku ketus. Dompet dan telepon selularku disimpan mereka,
para punggawa kenangan busuk. Kawanan tidak jelas yang tiba-tiba datang mendobrak
pintuku subuh-subuh, dan membawaku kesini, ke bangunan yang sekilas terlihat
seperti rumah biasa. Tapi percaya padaku , ini bukan rumah biasa. Dalamnya
diisi barang-barang aneh untuk menyiksa manusia, seperti rumah jagal.
Pisau-pisau dan golok dihiasi darah-darah segar digantung ditembok-tembok. Dan
barang-barang aneh penyiksa lainnya yang tidak bisa kugambarkan dengan
kata-kata, potongan tangan, jari dan kaki tergeletak sembarangan dipojok-pojok
ruangan. Pelarianku sia-sia.
“ga perlu galak-galak juga Dri, kamu
sekarang sama keluarga. Masa kayak gini kamu perlakuin kita, padahal dulu kamu
kalau ada apa-apa lapornya ke kita, lupa kamu ya? Apa tinggal di kampung ini
buat kamu jadi kacang lupa kulit?” Laki-laki banyak omong ini tidak tahu diri
juga rupanya, sombong sekali dia sekarang, memangnya dengan dia memainkan pisau
lipat seperti itu di depanku akan membuatku takut? Rupanya ia lupa waktu
jarinya berlumuran darah disisir besi tempa lalu menangis merengek didepanku
memohon di obati. Tanganku sudah gatal
untuk menusuk lehernya dengan golok bermandikan darah disampingku yang
sudah meronta-ronta untuk kutanamkan ke jantungnya. Wajahnya sungguh menggoda
untuk kuinjak dan kuludahi, dan ingin aku melihat matanya saat jarinya perlahan
kupisahkan dari tangannya. Aku yakin permohonan ampunmu akan jadi kudapan sore
yang nikmat.
“Loka! banyak omong kau! Satu kata
lagi keluar dari mulutmu, akan kupotong bibirmu! Anak pungut kurang ajar!” sahut
seorang pria tua dari ujung ruangan. Pak Mitro.
“Adri! Kau seharusnya bisa berlaku
lebih baik dari ini!”
“Berlaku seperti apa lagi Pak? Dia
pengkhianat, meninggalkan kita begitu saja tanpa kabar, perilakunya pada kita
hari ini hanya sedikit dari pembangkangannya selama 9 tahun ini. sudahlah pak,
tidak perlu bermanis-manis lagi, langsung saja, biarku…”
Kalimat Loka tidak pernah
diselesaikan. Yang kulihat tiba-tiba seorang gadis remaja berambut pendek
berdiri tepat disamping Loka. Ditangan kirinya berdiam pisau kecil sepanjang
botol aqua kecil penuh bercak darah segar. Wajahnya polos tanpa ekspresi,
seperti mayat hidup. Wajahnya sangat asing, didikan baru Pak Mitro? Sudah gila
orang tua ini.
“Terima kasih Ai.” Ucap pak Mitro
santai sambil menendang kepala Loka yang tergeletak di atas lantai tanah.
“sebenarnya ucapan Loka tadi ada
benarnya juga, tidak perlu aku bermanis-manis lagi. tujuanku menemuimu hari ini
adalah untuk mengajakmu kembali kepadaku. Aku butuh seorang Adri disampingku
untuk menjadi penasihat di perusahaanku.” Dasar orang tua munafik bau tanah.
Bermanis-manis? Otakmu benar-benar sudah dikotori nafsu, ketika ada maunya
langsung memasang senyum. Menjijikan kau, jas putihmu tidak akan bisa menutupi
kekotoran hati dan otakmu pak tua. Kalau bisa ingin kukalungkan tali ini ke
lehermu dan kugantung di Bundaran HI.
“bapak sudah tahu jawaban saya,
daripada saya menggunakan kekerasan untuk menjawab pertanyaan bapak yang amat
sangat sopan, ada baiknya bapak mengerti sendiri apa jawaban dari saya.” Mataku
enggan kuhadapkan pada wajahnya. Aku masih memberikan padanya kesempatan untuk
melepaskan ikatanku, mengembalikan dompet dan ponselku, lalu angkat kaki dari
desa ini agar aku tidak tergoda untuk mengotori kepalanku dengan darah busuk.
“seharusnya bapak tidak menahan
anjing penjaga bapak, biarkan saja ia menjemput ajal lebih awal.” Wajah si
gadis memerah seperti tomat busuk, kulit pucatnya sudah tidak terlihat, hanya
merah, dibakar amarah. Bagus, semakin marah dia, semakin mudah ia kuberi
pelajaran. Pak Mitro hanya menatapnya bengis dan menunduk, tangan Pak Mitro
bagai portal besi besar yang menutupi langkahnya. Kuperhatikan wajahnya ketika
mata Pak Mitro menghantam matanya. Hanya anjing betina kelaparan ternyata dia.
Gadis bodoh.
“jangan kurang ajar Adri. Kau tidak
ingin aku menggunakan cara yang lebih kasar dari ini.”
“Pak, buat saya saja kalimat bapak
tadi sudah sangat berlawanan dengan tindakan bapak terhadap saya. Barang-barang
pribadi saya disita, saya diculik, saya diikat. Sekarang saya ingatkan kembali
kepada bapak dan binatang-binatang peliharan bapak yang ada disini untuk pergi
dari sini, dan biarkan saya menjalani kehidupan saya yang baru. Ini peringatan
terakhir dari saya.” Kunaikkan nadaku sedikit, mempertegas pernyataanku. Kuakui
kesabaran dan tubuhku sudah mulai haus teriakan-teriakan minta ampun dan suara pukulan
dan darah.
“Aku satu-satunya keluargamu didunia
ini Dri, aku tidak tega melihat darahmu bercecer begitu saja karena kau membuat
amarahku meledak. Kau tidak ingin aku menyesali keputusanku Dri..” dasar orang
tua tolol, kau memejamkan mata sambil mengatakan itu padaku? kau meremehkan aku
Mitro. “Bapak seharusnya menyesal sekarang.” Ucapku tenang, ditanganku sekarang
salah seorang dari cecak yang dibawanya meronta-ronta. Kasihan celanaku,
dizinahi kencing cecak.
Mata Pak Mitro hanya bisa membeku
ketika melihat kursi didepannya kosong dan tambang hitam yang tadinya
mengikatku terputus kasar. Dan disampingnya sudah terkapar mayat tak berkepala
Loka. Kesalahannya yang paling fatal. Ai sudah menatapku tajam, seakan seperti
serigala betina yang akan mencabik-cabik tubuh lawannya. tapi tangan Pak Mitro
masih menahan tubuhnya, tidak menurun sedikitpun. Kenapa Pak tua? Takut
kehilangan satpam?
“ada baiknya kau lepaskan saja
anjing itu, kasihan dia, kau tidak ingin dia mati kehausan kan?” pancinganku
berhasil, di bebaskannya Ai. Sekejap dia sudah disampingku, terlihat sedikit
darah dipisaunya, darahku. Pipiku dikecupnya. Besi dingin di tangannya mendesis
pelan, matanya dipenuhi amarah. Emosi menguasainya, membuatnya sembrono. Ia
tidak sadar sebuah kayu kecil sudah tertancap di tengkuknya. Seluruh tubuhnya
gemetar, mati rasa mulai datang. Pisaunya lepas dari genggamannya. Kuambil
pisaunya, ku hibur diri sebentar sambil mengukir huruf Z besar dileher cecak
yang menzinahi celanaku lalu kutanamkan pisau ke dahinya, siapa kira teriakan
seekor cecak akan begitu mengganggu.
Ai sudah tersungkur di tanah, darah
segar mengalir pelan dari lehernya. Tapi memang, robot akan selalu mematuhi
perintah, ia masih meronta-ronta merayap kearahku. Matanya masih dipenuhi
amarah, seakan hanya itu yang membuatnya masih bertahan hidup. Kasihan dia, tak
perlu ia menderita lebih lama lagi. darah segar mengotori baju safariku saat
kuhantam kepalanya dengan kursi tempatku diikat tadi. Sekarang tinggal satu
hama lagi yang harus kuberantas, Mitro.
“memang, tidak salah keputusanku
mencarimu Dri, kaulah yang paling tepat mendampingiku.” Suara tengkorak yang
diberkahi ludah setan, dasar makhluk laknat. Kuhampiri dia perlahan, ditanganku
pisau yang mencabut nyawa anjing penjaganya, Ai masih haus darah. “apa kalimat
itu yang dulu yang kau sampaikan pada ayahku sebelum ia mati kau bunuh? Manis
sekali bibirmu Mitro, mungkin akan sangat menghibur apabila kupotong lalu
kupersembahkan kepada para semut merah, kau tahu mereka sangat menyukai segala
sesuatu yang manis.” Mitro tahu persis bahwa aku mampu dan dengan senang hati
melakukan itu, terlihat jelas dari langkah-langkah mundurnya, yang didorong
rasa takut. “tidak perlu kau bunuh aku Adri, kau tahu aku selalu memegang
kata-kataku, kekuasaan yang akan kuberikan padamu ini absolute, tidak aka nada
yang bisa mengganggu gugat, selama kau mengabdi kembali padaku.” suaranya
gemetar, semakin kering kerontang, persis seperti tengkorak. Kematianmu tidak
akan tanpa rasa sakit Mitro. Pisau ditanganku kulempar tepat mengarah
kesepatunya, harga dan kelas tidak menyelamatkan kakimu dari besi dingin
ternyata. Rumah itu diisi teriakan sebuah tengkorak yang tidak lama lagi akan
menyatu dengan tanah. Sebuah opera bagi telingaku. Kucabut pisau, ia terjatuh,
tangannya memegangi telapak kakinya yang kini bermandi darah. Kuinjak dadanya,
ringkih sekali, mungkin bila kutambah sedikit tenaga akan hancur. Tapi tidak,
aku masih butuh nyanyian dari paru-parunya. Kusayat pelan bibirnya, hingga
mulutnya tidak lagi memiliki mahkota yang ia gunakan untuk mengecup istrinya.
Teriakannya makin memekakan telinga, semakin indah, semakin…memuaskan. “aku
adalah pria yang memegang omonganku Mitro, seharusnya kau ingat itu.” bisikku
pelan ditelinganya. Cara paling menyenangkan untuk membunuh orang adalah dengan
membiarkannya mati perlahan, seperti yang akan kulakukan sekarang. Dipembuluh
darahnya sudah tertumpuk dosa dan najis-najis yang membiarkannya hidup cukup
lama, jadi ada baiknya apabila kupotong pembuluh darah yang berdiam ditangan
kirinya, lalu membiarkan darahnya mengotori tanah. Sepersekian detik ketika
besi dingin menyentuh tangannya, nafas Mitro mulai pendek dan hidungnya sudah
dipenuhi darah, ingus dan tangis, lucu sekali. Cukup satu gesekan dalam dan
tepat untuk memotong pembuluh darahnya, lalu biarkan alam mengerjakan sisanya.
“A…..d.d…d.d..rr……” sekarang
suaranya lebih menyerupai seekor bayi tikus got yang terjepit pintu,
menggemaskan. “kau tidak mau mati lebih cepat kan? Lebih baik kau diam.” Kakiku
melangkah keluar dari bangunan tua itu, meninggalkan Mitro mati ditengah rumah
penyiksa entah apa.
Matahari sudah tenggelam ternyata,
adzan maghrib sudah berkumandang. lebih baik aku pulang cepat-cepat lalu mandi,
besok harus mengajar. Tapi akan menyenangkan sepertinya bila aku memanfaatkan
gelarku didesa ini untuk sekali saja. Kenangan, tidak selamanya menjadi kanker
di otak, terkadang bisa menjadi olahraga yang paling dibutuhkan.
No comments:
Post a Comment