Sajak
3/10/2015
Dalam serpihan-serpihan
kata-kata yang terpendam dalam bungkus-bungkus rokok
Dalam patahan-patahan
kalimat yang tersebar di ladang kopi
Dalam bongkah-bongkahan
es yang berlarian di samudra kamus
Sajak ini
kutuliskan dengan sebatang rokok yang menyala
Oooooooooooooooh
jejak-jejak kaki kera dan binatang melata
Aaaaaaaaaaaaaaaaaah
sentuh jari siswa-siswi sd di pengasingan
Dimana juru
selamat yang dijanjikan untuk mereka yang terperangkap
Palung-palung
dalam sedalam palung mariana
Dimana juru
pandu orang-orang yang tersesat di hutan-hutan
Mereka
menemani Prabu Siliwangi yang katanya hilang di gunung salak
Hantu masa
depan bersama gendoruwo masa kini konsolidasi
Terdengar belum
lama di warkop Pak Kirno
Kudengar kabar
dari seorang tukang sapu jalan
Mereka ingin
merebut kuasa dari buaya ungu ditengah selokan dekat prapanca
Deretan
sepeda didepan kantor pos didiamkan begitu saja
Mati meringis
menunggu jadi pupuk besi
Mereka dijanjikan
jadi benda baru berguna bagi bangsa dan negara
Seperti
oncom yang bekasan ampas tahu
Darimanaaaa?
Darimanaaaa? Tikus dan lebah akan menemukan kedamaian
Jika gedung
dihancurkan dan reruntuhannya didiamkan dan di objek para tukang beling
Jika kebun
bunga di samping kantor imigrasi bergelimpang mayat-mayat botol bekas
Aku takut. Aku
bingung. Aku diam! Aku tertawa, aku hidup.
Para penerus
bangsa lari-larian kebingungaaaaan ibu
Berkunjung ke
rumah-rumah direktur dan manajer perusahaan, memohon segenggam serbuk ajaib
yang katanya bisa memberikan masa depan
Para harapan
negara jadi langganan situs porno ibu
Terbaring di
rumah sendiri anteng sambil masturbasi
Ayah, aku
mohon ayah lihatlah sajakku ini, sebentar saja, sambil minum kopi lampung
kiriman adikmu, om-ku
Doa-doa dan
harapan yang tertanam rapi dan apik dalam buku-buku sastra, sains dan sejarah
didiamkan begitu saja ayah, mereka maki dosa masa lalu, lalu mati tanpa di
solati di masjid
Baringkan sejenak
korek yang baru saja kau curi dari temanmu, lalu baca sajak ini sejenak
Yang kuukir
dengan jari dan hati yang gundah setelah melihat permasalahan diri dan bangsa
Diri dan
bangsa yang amat sangat kucinta dan ingin sekali aku maki
Adikku sayang,
adikku malang, adikku yang luar biasa pintar, adikku yang jadi kawan monitor
dan mouse komputer
Dengarlah
dengung getaran tangis anak seumuranmu di pelosok Maluku
Mereka tidak
bertemu sahabat, mereka tidak bertemu sehat
Bangku ini
kududuki, meski kakinya masih baru dan masih belum lama di berkati Tuhan
Belum lama
kopi mandheling yang kuminum habis, sekarang coklat jawa jadi kerabat lidahku
Rokokku tadi
malam habis, baru saja kubeli yang baru
Kekasih,
lihatlah fakultasku, LIHAT KAMPUSKU!
Kampus yang
rentan kampus tua, kampus megah kampus berlumuran dosa
Dimana
pendidikan yang sejati, dimana buku pesta dan cinta yang abadi
Dikhianati penerusnya
sendiri, dicabik-cabik dan disilet percepuan abad ini
Semesta raya
ditengah penciptaan Tuhan yang suci
Tanah air
Ibu pertiwi milik bendera merah dan putih
Aku sendiri
ditengah kedai kopi
Rokokku mati
Boleh kupinjam
korekmu?
No comments:
Post a Comment