Saturday, September 26, 2015

Kata-kata lampu



Kata-kata lampu
18/9/2015

                                  Kali ini lampu-lampu malam bernyanyi
                       Berbingkai tiang-tiang besi yang sabar
            Tertanam rapi, disisi ruang pejalan kaki
Jalanan abu-abu menanti ditangisi

                                    Akan terdengar senandung pelita malam
                        Mengisi ruang-ruang gulita disudut jalan
            Akan terlihat sajak-sajak langit gelap
Memainkan cerita bintang bersama tangis bulan

                                    Bayi-bayi didesa, ada bedakah dengan kota
                        Toh hanya geografi, bukan nasib, bukan nasi
            Malam bersama empuk kasur, malam bersama tikar
Toh tidur sama mendengkur

                                    Dijalanan, lampu berpuisi
                        Dirumah, lampu menari
            Dijalan, lampu jadi saksi
Dirumah, lampu jadi pengisi

            Lampu mendongeng, tentang bayi manusia
                        Yang tertidur dalam ilusi       

Suaka



Suaka
6/9/2015

Ini suaka untuk tanaman aksara yang masih perawan
Mereka yang masih bisatumbuh kembang
Sebelum mencari kebrutalan dalam degup
Asap dan relativitas sejarah

Ini hiburan untuk pohon-pohon kata yang menuju remaja
Kami yang saksi, hanya mampu menampikkan birahi dari armada nafsu
Masih disisakan, remah-remah batang kata
Yang disilet amarah

Ini pelarian diri dan peristirahat
Bagi bongkahan-bongkahan kayu tua pujangga lama
Kau yang renta, kau yang digoda liang lahat
Kau yang Berjaya, kau yang dilupakan

Ini sebuah surat cinta, suara kami
Yang dipendam dan dipenjarakan
Untukmu, yang terus mengukir tinta
Untuk kalian, yang terus menyapa gundah
Untuk kita, yang menyuarakan suara nurani

Tanggal 5



Tanggal 5
6/9/2015

Beberapa menit lalu tanggal 5 minggat
Masih bisa terlihat jejak kakinya
Sepatunya using, diseret-seret kasar
Kaki kirinya terluka, dipatok ayam tertawa

Lalu lalang kata dan ucapan
Yang diucap tanggal 5 tak terdengar
Hanya detak jam yang berjalan pincang
Perlahan-lahan, hingga tiada baying

Ingin aku menawarkan sebotol intisari
Tapi terlambat, ditinggal sudah tiada sapa
Tanggal 5 pergi seorang diri
Menginggalkan tawa dengan langkah terpapah

Monday, September 21, 2015

Ungkapan



Ungkapan
23/8/2015
Masih lekat dipikiranku
Ketika tirai-tirai itu dibuka
Kala gong didepan gerbang dihentakkan
Semua itu hanya sebuah penyambutan

Penyambutan akan sebuah kisah
Yang mengisi ruang, waktu dan emosi
Disini kami berusaha memapah
Suatu elegi, yang pasti jadi idola memori

Masih sangat kuingat
Percikan-percikan senyum dan tawa
Tetesan-tetesan keringat dan tangis
Dentuman sindiran, amarah
Dan keluh kesah

Disaksikan matahari yang senyumnya benderang
Kami dihantam duka lara
Kami dikecup manisnya kehilangan
Namun bukankah tiada terang tanpa gelap?

Bicara gelap, matahari pernah redup
Ditengah reduppun masih terang
Diantara sabuk semesta yang berjuta
Entah dimana, kata astronom ditengah tata surya

Kami masih disini, berdiri
Kami masih disini, menanti
Terang yang dikonsepsi
Gelap yang disangka sendiri
Dalam ungkapan memori yang bersangkar dihati

katamu



Katamu
14/8/2015

Katamu
Beban itu berkah
Berkah itu dosa
Beban itu dosa

Kataku
Nikmat itu hadiah
Hadiah itu palsu
Nikmat itu palsu

Siapa kita?
Hanya manifestasi impuls dan syaraf