BOTOL
NELANGSA
OLEH :
HAFENDRA ADAM
Botol plastik kosong di pojok mataku berdiri kokoh diterpa
goncangan-goncangan dari seekor kucing cokelat yang seakan mengajaknya bermain.
Tapi ia hanya bergoyang-goyang, doyong kekanan dan doyong kekiri seakan tiada
memiliki tempat berdiri. Padahal meja tempatnya berdiri terbuat dari marmer,
meskipun hanya untuk bagian atasnya saja.
Botol itu akhirnya jatuh, tutupnya
mengarah kesegerombol perempuan-perempuan pesolek yang sibuk berbincang, entah
apa, aku tidak mau tahu. “…iya, gue bête gitu pas dia tau-tau bilang masih virgin…” kalimat itu tiba begitu saja ke
telingaku, sudah biasa, sudah bukan menjadi tabu. Kucing cokelat itu kini
menghampiri botol, kembali mengajaknya bermain.
Botol itu berguling, perlahan-lahan,
hingga tiba diujung meja, dan jatuh, tergeletak di lantai biru bersama ribuan
punting-puntung rokok, ada yang masih utuh sepertinya. Kucing itu mengejar
botol, yang kini dibawahku, terbaring diam membeku diatas lantai, dihujani
abu-abu rokok yang baru saja kubuang.
Apabila botol itu adalah aku, akan
ku ambil rokok yang masih panas menyala dan menyolokkannya ke mata siapapun
yang membuang rokok itu padaku. tapi sayang, ia bukan aku dan aku bukan dia.
Kucing itu tiba-tiba naik kepangkuanku, siap-siap tangan ku mengusir.
Ia mendengkur, mengistirahatkan
diri, menjilat-jilat tubuhnya, lalu memejamkan mata. Ia tertidur dipangkuanku.
Enggan mengusir, kuurungkan tangan menepuk atau menjentil telinganya. ‘hmmf,
kenapa kau tidak bilang?’ pikirku.
Botol itu hilang dari lantai,
dipungut mungkin? Tetap kuhisap rokok, berharap asap-asap rokok yang bertamasya
diparu-paruku akan menahan kebiasaan burukku.
“kebersihan
sebagian dari iman.” Kuangkat kepala, mata ku tempatkan lurus menghadap wanita
yang mengambil botol nelangsa itu.
“kau
mengatakan hal yang sama pada mereka?” kupalingkan muka, menghadap gadis-gadis
pesolek menjijikkan itu.
“mereka
hanya butuh diarahkan.” Ia kini menarik kursi, lalu duduk disampingku. Botol
nelangsa itu ditaruhnya diatas asbakku.
“kau
menyebalkan kau tahu itu?” ku matikan rokok, kuangkat botol nelangsa itu,
kuperhatikan sedikit demi sedikit bentuk dan ukirannya, hanya botol biasa yang
sialnya kini kusebut nelangsa.
“siap,
pergi?” tanyaku, sambil mendirikan tubuh. Ia hanya mengangguk dan memasang
peredam suara ke pistolnya, Glock seri klasik buatan tahun 1989 peninggalan
kakaknya. Aku hanya bisa memasang senyum licik seraya melangkahkan kaki.
“DICARI : SEPASANG SUAMI ISTRI.
ATAS PEMBUNUHAN BERANTAI. TERAKHIR TERLIHAT DI SEBUAH FOODCOURT PUSAT
PERBELANJAAN DI JAKARTA SELATAN MEMBUNUH 6 ORANG PEREMPUAN.”
No comments:
Post a Comment