Friday, September 11, 2015

Botol Nelangsa



                                    BOTOL NELANGSA


OLEH : HAFENDRA ADAM

Botol plastik kosong di pojok mataku berdiri kokoh diterpa goncangan-goncangan dari seekor kucing cokelat yang seakan mengajaknya bermain. Tapi ia hanya bergoyang-goyang, doyong kekanan dan doyong kekiri seakan tiada memiliki tempat berdiri. Padahal meja tempatnya berdiri terbuat dari marmer, meskipun hanya untuk bagian atasnya saja.
            Botol itu akhirnya jatuh, tutupnya mengarah kesegerombol perempuan-perempuan pesolek yang sibuk berbincang, entah apa, aku tidak mau tahu. “…iya, gue bête gitu pas dia tau-tau bilang masih virgin…” kalimat itu tiba begitu saja ke telingaku, sudah biasa, sudah bukan menjadi tabu. Kucing cokelat itu kini menghampiri botol, kembali mengajaknya bermain.
            Botol itu berguling, perlahan-lahan, hingga tiba diujung meja, dan jatuh, tergeletak di lantai biru bersama ribuan punting-puntung rokok, ada yang masih utuh sepertinya. Kucing itu mengejar botol, yang kini dibawahku, terbaring diam membeku diatas lantai, dihujani abu-abu rokok yang baru saja kubuang.
            Apabila botol itu adalah aku, akan ku ambil rokok yang masih panas menyala dan menyolokkannya ke mata siapapun yang membuang rokok itu padaku. tapi sayang, ia bukan aku dan aku bukan dia. Kucing itu tiba-tiba naik kepangkuanku, siap-siap tangan ku mengusir.
            Ia mendengkur, mengistirahatkan diri, menjilat-jilat tubuhnya, lalu memejamkan mata. Ia tertidur dipangkuanku. Enggan mengusir, kuurungkan tangan menepuk atau menjentil telinganya. ‘hmmf, kenapa kau tidak bilang?’ pikirku.
            Botol itu hilang dari lantai, dipungut mungkin? Tetap kuhisap rokok, berharap asap-asap rokok yang bertamasya diparu-paruku akan menahan kebiasaan burukku.
“kebersihan sebagian dari iman.” Kuangkat kepala, mata ku tempatkan lurus menghadap wanita yang mengambil botol nelangsa itu.
“kau mengatakan hal yang sama pada mereka?” kupalingkan muka, menghadap gadis-gadis pesolek menjijikkan itu.
“mereka hanya butuh diarahkan.” Ia kini menarik kursi, lalu duduk disampingku. Botol nelangsa itu ditaruhnya diatas asbakku.
“kau menyebalkan kau tahu itu?” ku matikan rokok, kuangkat botol nelangsa itu, kuperhatikan sedikit demi sedikit bentuk dan ukirannya, hanya botol biasa yang sialnya kini kusebut nelangsa.
“siap, pergi?” tanyaku, sambil mendirikan tubuh. Ia hanya mengangguk dan memasang peredam suara ke pistolnya, Glock  seri klasik buatan tahun 1989 peninggalan kakaknya. Aku hanya bisa memasang senyum licik seraya melangkahkan kaki.
           
DICARI : SEPASANG SUAMI ISTRI. ATAS PEMBUNUHAN BERANTAI. TERAKHIR TERLIHAT DI SEBUAH FOODCOURT PUSAT PERBELANJAAN DI JAKARTA SELATAN MEMBUNUH 6 ORANG PEREMPUAN.”

No comments:

Post a Comment