Tanah
5/12/2015
pagi untukmu
yang terkapar diatas tanah
Sore untukmu
yang tertawa didalam gedung
Siang
untukmu yang menangis dibawah pohon
Malam
untukmu yang tersenyum ditengah rerumputan
Kurekam
jejak langkah jari dan tangan
Kalian yang menanti
akhir
Sabar
menunggu nyawa berkeliaran
Kala surya
terbenam, dan bulan yang mengintip
Dengarkah
kalian senandung pria
Bermata
kecil berpangku sebuah gitar
Tangis bayi
kegirangan diatas kelambu
Wanita yang
merintih kesakitan
Aku berdiam,
menanti kabar
Kau yang
kini terlelap, dibuai pasir-pasir mimpi warna-warni
Kau yang
kini seorang teman bagi jiwa-jiwa yang sedang huru-hara
Kau yang
kini bergumul syahdunya nestapa dan gundah
Aku yang
menanti, dengan sabar
Baikkah
kabarmu? Berdiamkah jiwamu menanti lalu?
Atau kau
kini terkikik jumawa, melihat diriku yang diterpa badai kelabu?
Aku, yang
beradu sukma dan kelana, dengan ia berdiri tegak menantang?
Kau harap
aku akan tumbang, dengan darah bergelimpang
Menjadi
mayat yang terbungkus kegelapan dalam terang
Sayang,
pemandangan yang enggan berkawan dengan waktu
Desir-desir
masa yang tak akan kau jumpa dan bertamu
Aku bergerak,
menantang ia yang berdiri tegak
Bermodal
kawan nyawa dan otak
Kesuraman
ajal yang tak akan kujumpa dengan amarah
Namun dengan
senyum dan tawa, kepuasan yang terpapah
Akan kujumpa
kau yang manis, suci dan indah
Entah waktu
tiba menjemput dirimu, yang kini berdiam dalam kelambu
Kukenali
senyummu, matamu, dan rambutmu yang dibuai udara manis mentari
Tangismu,
sendumu, amarahmu, masa lalumu, biar kau suarakan, semoga memberi arahan
Ketahuilah,
ufuk tiada indah tanpa senja
No comments:
Post a Comment