Wednesday, September 2, 2015

Tanah



Tanah
5/12/2015


pagi untukmu yang terkapar diatas tanah
Sore untukmu yang tertawa didalam gedung
Siang untukmu yang menangis dibawah pohon
Malam untukmu yang tersenyum ditengah rerumputan

Kurekam jejak langkah jari dan tangan
Kalian yang menanti akhir
Sabar menunggu nyawa berkeliaran
Kala surya terbenam, dan bulan yang mengintip

Dengarkah kalian senandung pria
Bermata kecil berpangku sebuah gitar
Tangis bayi kegirangan diatas kelambu
Wanita yang merintih kesakitan

Aku berdiam, menanti kabar
Kau yang kini terlelap, dibuai pasir-pasir mimpi warna-warni
Kau yang kini seorang teman bagi jiwa-jiwa yang sedang huru-hara
Kau yang kini bergumul syahdunya nestapa dan gundah

Aku yang menanti, dengan sabar
Baikkah kabarmu? Berdiamkah jiwamu menanti lalu?
Atau kau kini terkikik jumawa, melihat diriku yang diterpa badai kelabu?
Aku, yang beradu sukma dan kelana, dengan ia berdiri tegak menantang?

Kau harap aku akan tumbang, dengan darah bergelimpang
Menjadi mayat yang terbungkus kegelapan dalam terang
Sayang, pemandangan yang enggan berkawan dengan waktu
Desir-desir masa yang tak akan kau jumpa dan bertamu

Aku bergerak, menantang ia yang berdiri tegak
Bermodal kawan nyawa dan otak
Kesuraman ajal yang tak akan kujumpa dengan amarah
Namun dengan senyum dan tawa, kepuasan yang terpapah

Akan kujumpa kau yang manis, suci dan indah
Entah waktu tiba menjemput dirimu, yang kini berdiam dalam kelambu
Kukenali senyummu, matamu, dan rambutmu yang dibuai udara manis mentari
Tangismu, sendumu, amarahmu, masa lalumu, biar kau suarakan, semoga memberi arahan
Ketahuilah, ufuk tiada indah tanpa senja


No comments:

Post a Comment