Bidik
Jakarta, 8 Agustus 2015
Hati – hati
ibu
Kudengar di
luar sana banyak aparat gila
Menerbangkan
peluru – peluru panas entah kemana
Kemarin
teman dari temanku mati satu
Bukan karena
peluru
Namun rayuan
bisu manusia berbalut kain yang katanya di tempa emas
Aparat hanya
boneka mereka ibu
Hati – hati
ibu
Tempo hari
aku melihat seorang gadis yang tiba- tiba di hantam cahaya
“ ampun pak,
ampun pak! Saya disuruh ibu saya!” teriak mereka
Mereka
diseret seperti karung berisi kotoran ditengah malam, tiada harganya
aparat hanya
mengeluarkan makian dan makian
tanpa ampun,
layak beruang yang menggondol buruan
ibu, ibu
macam apa yang tega merelakan darah daging mereka jadi buah tangan beruang?
Ibu, aku
bertanya padamu, kenapa kau diam?
Kenapa hanya
sunyi yang kau balas?
Ibu, aku
bingung, tersesat
Siapa yang
patut dirujuk disaat moral melarikan diri terasing?
Sementara
semua musim di mulai dengan pernyataan Diskon
Bukan dengan
ajakan bersua dalam derita dan cerita
Ibu…nyanyian
bangunan roboh dibelakangku semakin cepat tiba di telingaku
Pintu masjid
tempat kita biasa shalat ied dahulu kini tiada, bernisankan debu
Kenapa ibu,
kenapa? Kenapa aku harus meninggalkanmu ditengah sujudmu?
Ibu….mengapa
kau tidak mengindahkan suaraku?
Ketahuilah
ibu, ibu yang sangat aku cintai…jasadku hanya terkena timah panas
Hanya
menembus jantungku, tidak berarti apa – apa
Ibu….kenapa
kau tidak menghiraukan aku….
No comments:
Post a Comment