Wednesday, September 2, 2015

Bidik



Bidik
Jakarta, 8 Agustus 2015

Hati – hati ibu
Kudengar di luar sana banyak aparat gila
Menerbangkan peluru – peluru panas entah kemana
Kemarin teman dari temanku mati satu
Bukan karena peluru
Namun rayuan bisu manusia berbalut kain yang katanya di tempa emas
Aparat hanya boneka mereka ibu

Hati – hati ibu
Tempo hari aku melihat seorang gadis yang tiba- tiba di hantam cahaya
“ ampun pak, ampun pak! Saya disuruh ibu saya!” teriak mereka
Mereka diseret seperti karung berisi kotoran ditengah malam, tiada harganya
aparat hanya mengeluarkan makian dan makian
tanpa ampun, layak beruang yang menggondol buruan
ibu, ibu macam apa yang tega merelakan darah daging mereka jadi buah tangan beruang?

Ibu, aku bertanya padamu, kenapa kau diam?
Kenapa hanya sunyi yang kau balas?
Ibu, aku bingung, tersesat
Siapa yang patut dirujuk disaat moral melarikan diri terasing?
Sementara semua musim di mulai dengan pernyataan Diskon
Bukan dengan ajakan bersua dalam derita dan cerita

Ibu…nyanyian bangunan roboh dibelakangku semakin cepat tiba di telingaku
Pintu masjid tempat kita biasa shalat ied dahulu kini tiada, bernisankan debu
Kenapa ibu, kenapa? Kenapa aku harus meninggalkanmu ditengah sujudmu?
Ibu….mengapa kau tidak mengindahkan suaraku?
Ketahuilah ibu, ibu yang sangat aku cintai…jasadku hanya terkena timah panas
Hanya menembus jantungku, tidak berarti apa – apa
Ibu….kenapa kau tidak menghiraukan aku….

No comments:

Post a Comment